Setelah itu dibalut dengan dinding kamprot semen dan sirip penangkal matahari sebagai elemen utama yang membuatnya menjadi menarik.
“Dindingnya tidak dicat, semennya kasar seperti karang, istilahnya dikamprot. Itu yang jadi ciri khas IBIV,” imbuh Setiadi.
Dia menambahkan, sejauh yang dia ketahui, gedung PPN merupakan bangunan tertinggi di Jakarta saat itu. Gedung tersebut terdiri dari 4 lantai.
Baca juga: Liem Bwan Tjie, Tionghoa Pelopor Arsitektur Modern Indonesia
Setiap lantai memiliki ketinggian sekitar 5 meter. Diperkirakan hal itu untuk mengantisipasi faktor cuaca panas.
“Saya rasa tingginya itu masih sama karena itu sulit direnovasi. Hampir tidak ada perubahan signifikan,” ucap Setiadi.
Untuk diketahui, di bawah kepemimpinan arsitek Albertus Wilhelm Gmelig Meyling, biro IBIV bisa melewati periode pendudukan Jepang dan mencapai kesuksesan saat Indonesia baru merdeka.
IBIV juga tercatat sebagai salah satu biro arsitek paling produktif pada masa itu. Lebih kurang 700 proyek telah dikerjakan pada periode 1936 sampai 1957.
Sejumlah bangunan penting pun merupakan hasil rancangan biro ini, misalnya hanggar pesawat di Bandung, Jakarta, dan Madiun (1938), Pabrik Kertas Letjes Probolinggo (1938), dan Fakultas Pertanian Universitas Indonesia di Bogor (sekarang kampus IPB Baranangsiang).
Selain itu, ada pula Bank Industri Negara Jakarta (1955, sekarang Bank Mandiri di Jalan RP Soeroso, Cikini), Perhimpunan Ilmu Alam Indonesia Bandung (1956), dan beberapa gedung dalam kompleks Fakultas Teknik Universitas Indonesia (sekarang Institut Teknologi Bandung).
Bayangkan seorang anak Indonesia bercita-cita menjadi dokter tetapi hanya memiliki satu buku lusuh untuk belajar. Bersama Ekspedisi Kata ke Nyata Kompas.com, Anda bisa membantu mengubah kisah itu. Mari hadirkan akses literasi bagi anak-anak di berbagai pelosok Indonesia melalui donasi lewat tautan https://bit.ly/JagatLiterasi2026. Setiap kebaikan yang Anda berikan bukan hanya membuka jendela pengetahuan, tetapi juga membuka masa depan mereka.
Artikel ini telah masuk Arsip. Berlangganan untuk membacanya kembali kapan saja.