Sejarah Giethoorn, Kota Tanpa Jalan Raya

Kompas.com - 30/04/2019, 13:29 WIB
Giethoorn terletak 125 Km dari Kota Amsterdam, Anda bisa menyambanginya naik kereta atau mobil selama 90 menit Getty ImagesGiethoorn terletak 125 Km dari Kota Amsterdam, Anda bisa menyambanginya naik kereta atau mobil selama 90 menit

Aktivitas ini bertujuan untuk menghilangkan lapisan dasar gambut dari lahan gambut. Gambut yang diekstraksi selama proses tersebut umumnya digunakan sebagai bahan bakar.

Namun penduduk pada waktu itu belum memperhatikan dampak dari aktivitas ekstraksi ini. Akhirnya, selain menghasilkan gambut, proses ekstraksi ini juga menghasilkan kanal dan kolam-kolam yang tersisa.

Air yang mengalir berasal dari Danau Giethoornse yang terletak lima kilometer di bagian barat desa.

Kanal dan parit yang ada lalu digali lebih dalam untuk mengangkut gambut. Setelah itu, banyak rumah dibangun di atas lahan yang berada di antara kanal dan kolam-kolam buatan.

Bahkan rumah-rumah yang ada hanya dapat dicapai melalui jembatan atau pun perahu. Sebagian besar jembatan yang dibangun merupakan milik pribadi.

Kemudian pada 1750, aktivitas ekstraksi gambut berhenti. Mengutip laman DBNL, para penduduk mulai menetap dan beralih menjadi peternak.

Mereka membiakkan sapi, memotong rumput dan jerami, serta mengembangkan sektor pertanian dan perikanan sebagai kegiatan tambahan.

Desa tanpa jalan raya di Giethoorn, Belanda. Desa tanpa jalan raya di Giethoorn, Belanda.
Peralihan mata pencaharian ini kemudian membuat fungsi kanal menjadi sangat penting. Kanal yang telah terbentuk selanjutnya digali dan dikembangkan menjadi jalan utama untuk mengangkut hasil peternakan dan pertanian dari satu wilayah ke wilayah lain.

Selain kanal, penduduk juga membangun jalur pedestrian dan beberapa jembatan penghubung dengan ketinggian yang disesuaikan agar dapat dilalui perahu.

Keberadaan wilayah ini mulai dikenal publik saat sutradara Belanda, Bert Haanstra mengambil gambar untuk lokasi filmnya yang berjudul Fanfara pada 1958.

Setelah film tersebut dirilis, banyak orang mulai mengetahui tertarik untuk berkunjung ke Giethoorn. Pariwisata di wilayah itu pun meningkat tajam dan menjadi salah satu pendapatan utama para penduduk.

Untuk mengakomodasi banyaknya pengunjung, lahan-lahan pertanian yang ada mulai diubah menjadi rumah-rumah untuk mendukung pariwisata.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X