Kompas.com - 26/04/2019, 14:53 WIB
Pekerja menyelesaikan proyek pembangunan jalan tol akses Serpong - Kunciran sepanjang 11,20 km di Kawasan Parigi, Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Jumat (02/02/2018). Jalan tol  ini merupakan bagian dari jaringan Tol JORR 2 yang nantinya akan menghubungkan Bandara Soekarno Hatta hingga Bitung Tangerang dan diharapkan mampu memecahkan penumpukan serta kemacetan yang ada di tol dalam kota maupun tol JORR. KOMPAS.com / ANDREAS LUKAS ALTOBELIPekerja menyelesaikan proyek pembangunan jalan tol akses Serpong - Kunciran sepanjang 11,20 km di Kawasan Parigi, Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Jumat (02/02/2018). Jalan tol ini merupakan bagian dari jaringan Tol JORR 2 yang nantinya akan menghubungkan Bandara Soekarno Hatta hingga Bitung Tangerang dan diharapkan mampu memecahkan penumpukan serta kemacetan yang ada di tol dalam kota maupun tol JORR.

JAKARTA, KOMPAS.COM - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan beberapa waktu lalu mengungkapkan, kerugian akibat kemacetan di Jabodetabek mencapai Rp 100 triliun per tahun.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Prediksi tersebut lebih tinggi dari perkiraan yang disampaikan Presiden Joko Widodo, yang menyebut sekitar Rp 65 triliun kerugian per tahun akibat kemacetan di wilayah megapolitan ini.

Saat ini, pemerintah dan badan usaha jalan tol tengah menggenjot penyelesaian proyek enam ruas Tol Jakarta Outer Ring Road (JORR) 2 sepanjang 109,4 kilometer.

Baca juga: JORR 2 Segera Beroperasi, Kota Mandiri Baru Diprediksi Tumbuh

Kehadiran proyek yang terbagi ke dalam enam ruas itu diharapkan dapat menjadi salah satu solusi kemacetan tersebut.

Namun, menurut Ketua Umum Ikatan Ahli Perencanaan (IAP) Bernardus Djonoputro, dampak yang ditimbulkan setelah tol ini beroperasi tidak bisa serta merta langsung dirasakan.

"Tidak bisa secara langsung. Karena angkutan barang seperti truk itu masih 80 persen bergerak melewati jalur darat. Mengurangi kemacetan di JORR 1 iya, tapi biaya akibat kemacetan ini hanya akan berkurang sedikit," kata Bernie kepada Kompas.com, Jumat (26/4/2019).

Menurut dia, untuk mengurangi kemacetan perlu alternatif meminimalisasi pertemuan antara kendaraan angkutan logistik dan kendaraan pribadi di jalan tol.

Selama ini, kemacetan di ruas JORR 1 terjadi karena tingginya volume kendaraan berat di ujung ruas tol yang berada di kawasan Tanjung Priok.

Oleh karena itu, Bernie mengatakan, diperlukan alternatif transportasi lain untuk mengangkut logistik yang dibongkar muat di sana.

Baca juga: Siap-siap, Megapolitan Jabodetabek Terhubung Jalan Tol Tahun 2020

"Yang harus segera kita lakukan adalah melihat sistem hub and stop kepelabuhanan. Dengan merelokasi bongkar muat di pelabuhan ke dry port yang dihubungkan dengan transportasi logistik berbasis rel," usul dia.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.