Meski Pasar Sydney Lesu, Pengembang Indonesia Yakin Capai Target

Kompas.com - 22/04/2019, 19:18 WIB
Crown Group Chairman and CEO Iwan SunitoMorris McLennan : Red SquareMedi Crown Group Chairman and CEO Iwan Sunito

SYDNEY, KOMPAS.com - Tak hanya Indonesia, kondisi perlambatan pasar properti juga terjadi di Australia.

Hal ini terlihat dari laporan RBA Cash Rate Survey yang menunjukkan penurunan harga rumah dan apartemen akan terus berlanjut hingga tahun 2020 mendatang.

Kecuali Kobart dan Canberra, semua kota besar di Negeri Kanguru ini, mengalami kemerosotan harga rumah hingga lebih dari 60.000 dollar Australia atau ekuivalen Rp 602.732.000.

Khusus kota Sydney, RBA Cash Rate Survey memprediksi harga rumah bisa turun 6,2 persen,  menurunkan harga rata-rata menjadi 872.242 dollar Australia (Rp 8,762 miliar).

Bahkan, kondisi lebih buruk akan dialami apartemen dengan kemerosotan 7,7 persen.

 

Namun demikian, RBA Cash Rate Survey menganggap kondisi ini sebagai jalan bagi calon pembeli untuk mencari properti yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan finansialnya pada tahun depan.

Hal senada dikatakan Crown Group Chairman and CEO Iwan Sunito. Dia tetap optimistis di tengah situasi pasar yang belum stabil.

Baca juga: Iwan dan Paul, Duet Indonesia Penakluk Pasar Australia

Penjualan proyek-proyek Crown yang tengah dipasarkan saat ini, menurut Iwan akan mencapai hasil maksimal.

"Saya optimistis. Terutama di daerah kota seperti Waterloo Greensquare. Harganya tetap naik karena permintaan lebih kuat dibanding penawaran," tutur Iwan menjawab Kompas.com, Senin (22/4/2019).

Tahun ini, Crown Group menargetkan volume penjualan mencapai angka 35 juta dollar Australia atau sekitar Rp 351,6 miliar.

Kontribusi terbesar terjadi pada bulan Maret dan April yang berasal dari penjualan Mastery by Crown di kawasan Waterloo.

Fasad depan Eastlakes LIve, Sydney, Australia.Dokumentasi Crown Group Fasad depan Eastlakes LIve, Sydney, Australia.
Iwan menegaskan, bahwa bisnis properti adalah permainan jangka panjang. yang berpijak pada aksi membeli untuk kemudian menunggu. Bukan menunggu untuk kemudian membeli.

Karena pada faktanya selama dua dekade terakhir, properti terus menunjukkan kinerja sebagai instrumen investasi yang solid.

Dia mencontohkan rumah di Sydney yang dihargai Rp 1 miliar pada 1993, saat ini ditaksir menembus angka Rp 20 miliar.

Halaman:
Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X