Perusahaan Asing Mendominasi Industri Logistik di Indonesia

Kompas.com - 16/04/2019, 21:30 WIB
Ilustrasi kawasan industriC22 Ilustrasi kawasan industri

JAKARTA, KOMPAS.com – Industri logistik dan pergudangan modern di Indonesia menjadi pasar yang menggiurkan bagi perusahaan asing.

Survei Jones Lang LaSalle (JLL) Indonesia mengungkapkan, perusahaan yang berbasis di Australia, Logos, dipastikan berekspansi ke Indonesia dalam dua tahun ke depan.

Dari total suplai pergudangan baru di wilayah Jabodetabek sampai 2021 yang diprediksi sekitar 870.000 meter persegi, Logos berkomitmen menyediakan gudang baru lebih dari 40 persen atau seluas 348.000 meter persegi.

Kemudian, diikuti oleh perusahaan lokal Mega Manunggal Property (MMP) sekitar 35 persen atau seluas 304.500 meter persegi, dan sisanya oleh perusahaan lain sebanyak 25 persen atau seluas 217.500 meter persegi.

“Logos dan MMP akan mendominasi pasokan pergudangan baru paling tidak dalam dua tahun mendatang,” ujar Head of Research JLL Indonesia James Taylor kepada Kompas.com, Selasa (16/4/2019).

Baca juga: Bekasi, Karawang, dan Purwakarta, Wilayah Favorit Industri

Menurut James, Logos merupakan perusahaan asing yang melihat potensi industri pergudangan di Indonesia dan telah memiliki lahan untuk dikembangkan menjadi gudang modern. Contohnya di Pondok Ungu, Bekasi, yang saat ini sedang dalam tahap penyelesaian.

Namun, dia tidak bisa menyebutkan luas lahan dan nilai investasi yang dikucurkan untuk pembangunan gudang di lokasi tersebut.

“Sementara MMP merupakan perusahaan lokal yang mempunyai portofolio paling besar yang telah eksis dan akan terus bertambah,” ucap James.

Dia menambahkan, ada pula perusahaan lain yang selama ini sudah eksis dalam bisnis pergudangan di Indonesia, antara lain DHL dan Kamadjaja Logistics.

Ketertarikan perusahaan asing dan domestik di sektor logistik ini karena masih kurangnya pasokan. Sementara di sisi lain, permintaannya tinggi.

Itulah yang membuat mereka memanfaatkan kesempatan untuk berinvestasi karena peluang pasar yang masih begitu besar.

“Populasi dan perekonomian begitu besar. Industri e-commerce juga berkembang cepat. Kami berharap   industri logistik masih menjadi sektor favorit bagi para investor dalam beberapa tahun ke depan,” tambah James. 

Diperkirakan ada lebih dari 400.000 meter persegi ruang baru dalam industri logistik pada 2019. Selanjutnya, sekitar 300.000 meter persegi pada 2020, dan kisaran 150.000 meter persegi pada 2021.

Untuk lokasinya, perkiraan suplai paling banyak berada di Cikarang sekitar 45 persen, Bekasi lebih kurang 30 persen, dan wilayah lainnya 25 persen.

Sementara secara agregat, luas total area industri dan pergudangan modern di wilayah Jabodetabek yaitu 1,5 juta persegi hingga kuartal I-2019.

Sebagian besar berlokasi di wilayah timur Jakarta. Porsinya sebesar 66 persen atau seluas 990.000 meter persegi, yang berlokasi di Bekasi, Karawang, dan Purwakarta.

Sementara di wilayah barat Ibu Kota, cakupannya mulai dari Tangerang, Serang, sampai Cilegon, yakni 28 persen atau seluas 420.000 meter persegi.

Sedangkan sisanya sebesar 6 persen atau 90.000 meter persegi yang berada di Bogor.

Perusahaan logistik dan fast moving consumer goods (FMCG) merupakan jenis usaha yang mendominasi permintaan.

Pembagiannya yaitu perusahaan logistik sekitar 48 persen, FMCG 20 persen, elektronik lebih kurang 18 persen, e-commerce sekitar 9 persen, dan industri otomotif hampir 5 persen.

“Perusahaan e-commerce menunjukkan perkembangan positif pada permintaan gudang modern. Pengembang pun berusaha memenuhi permintaan pasar untuk membangun space baru,” pungkas James.



Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Close Ads X