Kompas.com - 26/03/2019, 18:32 WIB

KOMPAS.com - Gagasan co-living atau hunian bersama muncul di Singapura pada awal abad ke-19 ketika imigran tinggal dirumah toko dengan dapur, ruang keluarga, dan kamar mandi yang digunakan bersama.

Kini konsep ini telah berubah. Laporan HVS Singapore bertajuk "In Focus: Singapore, The Reinvention of Co-Living" menyatakan, ruang komunal telah berevolusi dari model akomodasi yang tidak menarik menjadi ruang modern yang dilengkapi perabot, ruang komunal, layanan, dan berbagai fasilitas lainnya.

Selain itu, ruang co-living menyediakan gagasan untuk kolaborasi, fleksibilitas, dan gagasan jejaring sosial. Biaya sewa yang dibebankan pun biasanya dibebankan secara bulanan.

Baca juga: Indonesia di Mata Raksasa Properti Singapura

Model co-living terbukti memperoleh popularitas seiring dengan tenarnya tren co-working.

-PMG | BRIAN KOLES -

Riset HVS Singapura menyatakan hingga 31 Desember 2018, terdapat total 570 unit ruang co-living di seluruh Singapura.

Sementara pada 2019, HVS memproyeksikan pertumbuhan ruang komunal sebanyak 1.100 unit, tahun 2020 sebanyak 279 unit, dan pada 2021 sebanyak 564 unit.

Lebih lanjut, para pengguna ruang komunal tersebar dengan rentang usia mulai dari 20 hingga 40 tahun.

Para pengguna tersebut merupakan pelajar, para pengusaha start-up, ekspatriat, pekerja profesional, hingga sektor keluarga.

Lebih lanjut, mayoritas operator co-living menyediakan ruang komunal, dapur umum, fasilitas laundry, ruang outdoor, ruang acara, dan hiburan.

Baca juga: Wallich Residence, Apartemen Tertinggi di Singapura

Sedangkan fasilitas yang disediakan antara lain, akomodasi, acara komunitas, keamanan, WiFi, layanan tempat tinggal, layanan pelangganyang tersedia 24 jam.

Sementara harga sewa ruang co-living ditentukan oleh beberapa hal yakni lokasi, kelengkapan perabot, hingga fleksibilitas dalam perjanjian.

Roam co-living housing di Ubud, Bali.Dezeen Roam co-living housing di Ubud, Bali.

Operator co-living Singapura

Dalam dua tahun terakhir, pasar telah menyaksikan berbagai start-up co-living dengan suntikan dana hingga jutaan dollar mulai bermunculan.

Beberapa di antaranya adalah Ascott Limited, Hamlet, CP Residences. Tak hanya pemain Singapura, merek hotel bahkan merek besar mulai mengikuti tren ini dengan mengeluarkan brand khusus co-living.

Sebut saja Hilton dengan Canopy dan Tru, CitizenM, Banyan Tree dengan merek Dhawa, hingga Vib oleh Best Western.

Meski begitu, meningkatnya merek hotel yang turut bermain di segmen co-living turut menawarkan konsep baru. Setiap operator menawarkan fasilitas serta model ruang yang berbeda.

Tru misalnya, menawarkan ruang yang lebih kecil namun dengan lobi berukuran besar yang dapat digunakan untuk makan, bekerja, bermain, atau sekadar nongkrong.

Sementara Joe&Joe oleh Accor mengenalkan konsep hybrid yang memadukan hostel dan hotel. Joe&Joe menawarkan jenis ruangan berbeda, seperti ruang model asrama maupun ruang privat dengan fasilitas berbeda.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.