MRT Jakarta Dinilai Kurang Ambisius Targetkan Jumlah Penumpang

Kompas.com - 21/03/2019, 14:30 WIB
Penyandang disabilitas yang tergabung dalam Jakarta Barier Free Tourism atau JBFT mengikuti uji coba publik pengoperasian MRT di Stasiun Bundaran HI, Jakarta Pusat, Sabtu (16/3/2019). Penyandang disabilitas yang mengikuti uji coba MRT terdiri dari berbagai ragam disabilitas. Mulai dari pengguna kursi roda, tunanetra, insan tuli dan ragam disabilitas lainnya. KOMPAS.COM/GARRY LOTULUNGPenyandang disabilitas yang tergabung dalam Jakarta Barier Free Tourism atau JBFT mengikuti uji coba publik pengoperasian MRT di Stasiun Bundaran HI, Jakarta Pusat, Sabtu (16/3/2019). Penyandang disabilitas yang mengikuti uji coba MRT terdiri dari berbagai ragam disabilitas. Mulai dari pengguna kursi roda, tunanetra, insan tuli dan ragam disabilitas lainnya.

JAKARTA, KOMPAS.com — Tak kurang dari 65.000 penumpang ditargetkan dapat menggunakan moda raya terpadu (MRT) setiap hari pada tahun pertama beroperasi.

Meski demikian, target yang ditetapkan PT MRT Jakarta tersebut dinilai kurang ambisius.

Sebab, bila melihat jargon yang ditawarkan, yaitu memberikan kecepatan akses transportasi, seharusnya PT MRT Jakarta berani mematok target lebih tinggi.

"Transjakarta Koridor 1 saja (targetnya) 70.000 sampai 90.000 penumpang per hari lho," kata Country Director Institute for Transportation and Development (ITDP) Indonesia Yoga Adiwinarto kepada Kompas.com, Kamis (21/3/2019).

Koridor 1 Transjakarta beroperasi mulai dari Terminal Blok M hingga Stasiun Kota. Jalur ini berimpitan dengan trase fase 1 MRT utara-selatan yang terbentang mulai dari Lebak Bulus hingga Bundaran HI.

Baca juga: Basuki Anggap Manfaat MRT akan Maksimal Bila Semua Trase Dibangun

"MRT yang digadang-gadang bakal lebih cepat itu harusnya lebih ambisius. Memang mereka pernah bikin perencanaan awal itu 173.000 dulu. Pakai saja dulu angka itu," kata Yoga.

Salah satu upaya yang bisa dilakukan PT MRT Jakarta agar target tersebut dapat tercapai ialah dengan 'menekan' DPRD DKI.

Di samping promosi kuat yang tengah dilakukan seperti saat ini, yaitu dengan menggandeng influencer hingga Presiden Joko Widodo untuk mencoba dan menceritakan pengalaman mereka di media sosial.

Adapun tekanan yang dimaksud, kata Yoga, selama ini DPRD keberatan dengan subsidi tarif yang harus dialokasikan Pemprov DKI kepada MRT Jakarta.

"Subsidi kegedean itu parameternya bukan dari cost-nya, menurut saya, tapi dari sisi revenue karena subsidi itu kan total cost dikurangi total revenue," ucap dia.

Sementara MRT Jakarta tak berani mematok revenue tinggi karena target penumpang mereka rendah. Untuk mempercepat alih moda transportasi, 'tekanan' kepada masyarakat perlu diberlakukan.

Misalnya, dengan menetapkan tarif parkir tinggi di koridor MRT beroperasi. Penetapan tarif ini menjadi ranah DPRD.

Dengan perubahan tersebut, ia berharap, terjadi perubahan pola pikir masyarakat dalam menggunakan transportasi publik.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X