MRT Jakarta Beroperasi 12 Maret, Apa yang Perlu Dibenahi?

Kompas.com - 07/03/2019, 11:16 WIB
Pusat informasi MRT Jakarta berbentuk kereta di Taman Dukuh Atas, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Senin (7/1/2019). Pusat informasi akan melayani masyarakat yang ingin mengetahui lebih jauh tentang semua hal yang berkaitan dengan transportasi massal yang akan mulai beroperasi pada bulan Maret mendatang. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGPusat informasi MRT Jakarta berbentuk kereta di Taman Dukuh Atas, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Senin (7/1/2019). Pusat informasi akan melayani masyarakat yang ingin mengetahui lebih jauh tentang semua hal yang berkaitan dengan transportasi massal yang akan mulai beroperasi pada bulan Maret mendatang.

KALAU tak molor, operasionalisasi MRT Jakarta Tahap I sepanjang 16 kilometer trase Lebak Bulus-Bunderan HI tinggal menghitung hari.

Masyarakat Jakarta sangat antusias dan sudah tidak sabar mencoba MRT Jakarta pada 12 Maret 2019. Terbukti, tiket untuk publik yang dibuka pada beberapa waktu lalu langsung ludes hanya dalam waktu dua jam.

Operator PT MRT Jakarta pun sudah menyiapkan segalanya, termasuk awak kereta. Sebanyak 17 instruktur masinis, 54 masinis, dan 12 pengendali Operation Control Center (OCC) telah mendapatkan pelatihan di manca negara.

Namun, jika kita tarik ulang dan melihat rencana terakhir, seharusnya MRT Jakarta sudah beroperasi tahun 2017. Artinya ini molor 2 tahun. CEO PT MRT Jakarta pun sudah berganti tiga kali selama kurun tiga hingga empat tahun terakhir.

Selain itu, masih banyak ketimpangan teknis, terutama untuk kemudahan dan kenyamanan pejalan kaki yang terabaikan di beberapa stasiun elevated sepanjang Jl Fatmawati, serta lanjutan kebijakan lain agar moda transit lain macam Light Rail Transit ( LRT) dan Bus Rapid Transit (BRT) menjadi pilihan masyarakat.

Perubahan rancangan MRT

Beberapa perubahan desain dan rencana operasi MRT Jakarta perlu dimaklumi dan sudah terjadi. Target awal ridership  dalam basic design Jmec 2015, tertulis sebanyak 173.400 penumpang per hari, 12.000 penumpang pada jam puncak, di mana setiap 5 menit lewat satu rangkaian kereta.

Dalam rencana awal  juga tercantum rasio kongesti sebesar 190 persen (6 cars), termasuk berdiri dengan kondisi agak rapat dan padat-padatan.

Kini target hanya hanya 60.000 penumpang per hari. Artinya, produktivitas rencana MRT Jakarta sudah diturunkan 60 persen.

Padahal, 16 rangkaian kereta, 14 yang dioperasikan dan 2 untuk cadangan, masing-masing terdiri 6 kereta sudah tersedia. 

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X