Arsitek-arsitek Indonesia yang Berjaya di Luar Negeri

Kompas.com - 05/03/2019, 19:47 WIB
Dancing Mountain HouseFernando Gomulya Dancing Mountain House

JAKARTA, KOMPAS.com - Prestasi arsitek- arsitek Indonesia di tingkat internasional, patut mendapat apresiasi. Beberapa penghargaan dan pengakuan berdatangan atas hasil karya mereka.

Selama beberapa tahun terakhir, dalam catatan Kompas.com, baik arsitek maupun perusahaan yang menaunginya sukses unjuk taji di berbagai ajang perlombaan internasional.

Berikut daftar arsitek Indonesia yang mendapat pengakuan dunia.

Budi Pradono

Arsitek Budi Pradono melalui Budi Pradono Architects (BPA) berhasil meraih penghargaan dalam Arcasia Architecture Awards (AAA) pada 2016.

Arcasia merupakan Dewan Arsitek Regional Asia yang dibentuk oleh 19 organisasi arsitek se-Asia mulai dari China hingga Pakistan.

Budi mendesain rumah yang diberi nama Dancing Mountain House. Karyanya ini, diganjar sebagai proyek residensial terbaik seantero Asia.

Desain rumah yang dirancang Budi berkonsep borderless home atau rumah tanpa sekat.

Hal ini membuat desain rumah terasa lebih lapang dengan berpusat pada ruang keluarga berupa ruang makan utama.

Proyek perumahan di Salatiga dengan penyelesaian pada 2014 silam ini diakui Budi sebagai bentuk dedikasi terhadap mendiang ayahnya, yang merupakan seorang pendidik dan pengajar di sebuah universitas lokal kota tersebut.

Budi juga membangun perpustakaan umum di sekitar kompleks rumah tersebut.

Selain Dancing Mountain House, karya lainnya yakni Casablancka Residence pernah masuk dalam daftar nominasi ArchDaily's Building of The Year 2018.

Casablancka Residence yang dirancang Arsitek Budi Pradono.Archdaily Casablancka Residence yang dirancang Arsitek Budi Pradono.
D-Associates

Bersama dengan BPA, D D Associates juga menerima penghargaan Arcasia Architecture Awards (AAA).

Rumah bernama Dra House tersebut meraih penghargaan untuk kategori "Perumahan Individu Bukan Keluarga". Karya D-Associates di Bali ini memadukan unsur estetis, modern, dan alam.

Andry Widyowijatnoko

Arcasia Award 2016 turut diberikan kepada Andry Widyowijatnoko pada kategori "Public Amenity/Institutional Building" atas karyanya berupa OBI Great Hall di Purwakarta, Jawa Barat.

SHAU

Biro arsitek asal Bandung, SHAU menyabet penghargaan dunia. Salah satu karyanya yakni perpustakaan mini bernama Microlibrary Bima yang berhasil menyabet gelar terbaik di ajang Architizer A+ Awards pada 2017.

Architizer A+ Awards merupakan penghargaan terbesar bagi karya-karya arsitektur tahunan terbaik di dunia.

Perpustakaan kecil yang dibuka pada Juli 2016 itu telah menarik perhatian dunia tidak hanya melalui persediaan buku-bukunya tetapi juga untuk desain cerdiknya.

Ini karena dinding-dinding perpustakaan dibangun menggunakan ember es krim. Selain itu, tim SHAU juga memanfaatkan bahan-bahan daur ulang, termasuk penggunaan 2.000 ember plastik.

Baca juga: Perpustakaan Kelurahan di Bandung, Terbaik Sedunia

Selain perpustakaan, SHAU juga pernah menyabet gelar dari American Architecture Prize (AAP) dalam kategori "Small Firm of the Year in Sustainable Architecture" pada 2017.

Selain itu, biro ini juga pernah memperoleh sejumlah penghargaan internasional, seperti INDE Award 2018 kategori "Influencer", WAF X Award 2017 kategori "Smart City", Lafarge Holcim Asia Pacific Silver Award 2017.

Microlibrary BandungSandy Pirouzi/Archdaily Microlibrary Bandung
SASO Architects

Biro arsitektur SASO Architects memenangi salah satu kategori dalam 5th Global LafargeHolcim Awards for Sustainable Construction, 2018.

Andi Subagio bersama dua orang temannya, Danna Rasyad dan Theodorus Alryano, tampil sebagai terbaik kategori Next Generation untuk wilayah Asia Pasifik.

Dalam kompetisi itu, Andi dan timnya mengajukan desain pembangunan sekolah di Ruteng, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Pembangunan sekolah awalnya merupakan proyek sosial pesananan klien SASO Architects. Namun seiring berjalannya proyek, SASO Architects memutuskan untuk mengikutsertakan karyanya dalam ajang LafargeHolcim Awards.

Splow HouseFernando Gomulya Splow House
Delution Architects

Karya rumah berkonsep Split-Grow House behasil menyabet penghargaan Architizer a+ Awards 2017.

Rumah yang berada di Tebet, Jakarta Selatan ini dirancang khusus agar penghuni bisa dibangun kembali saat penghuni memiliki anggaran tambahan. 

Konsep split sendiri digunakan untuk memanipulasi wajah rumah. Rumah tersebut membutuhkan tinggi 3 lantai tapi dengan konsep split hanya terlihat setinggi 2 lantai dari fasad. Hal ini juga membuat rumah tersebut menyesuaikan ketinggian dengan rumah lainnya.

Dengan konsep ini, setiap lantai dihitung sebagai lantai setengah, mulai dari mezzanine pertama hingga mezzanine kelima.

Untuk tahap ini, klien memutuskan untuk membangun 3 level mezzanine terlebih dahulu, dan menunda 2 mezzanine lainnya. Namun, Delution membuat rumah tersebut terlihat benar-benar berbeda dari luar.

Dari mezzanine pertama ke mezzanine terakhir dihubungkan oleh satu bagian kosong besar yang menjadi sumber utama cahaya alami dan udara.

Kekosongan itu juga memiliki tangga sebagai akses utama rumah tersebut.

Dengan ruang kosong ini, para penghuni bisa saling berinteraksi dan berkomunikasi langsung dari lantai yang berbeda.

Selain itu, Delution Architects juga pernah meraih penghargaan Desain Interior Award 2017 untuk kategori perkantoran. 

Jamal Abdillah

Mahasiswa jurusan arsitektur itu meraih juara pertama dalam ajang "The 8th Asian Institute of Low Carbon Design (AICLD)-International Student Design Workshop".

Mengutip situs Universitas Bandar Lampung, Selasa (5/3/2019), Jamal mengatakan, dia beserta timnya merancang ulang desain lanskap Kota Wakamatsu dan Tobata.

Selain Jamal, ada pula Panca Indra dan tim yang menyabet 1st Honorable Mention atau Juara Harapan 1 dalam ajang tersebut.



Close Ads X