Jepang Menjelang "5.0 Society" dan Era Menikmati Hidup

Kompas.com - 25/01/2019, 21:30 WIB
Ilustrasi masyarakat 5.0FREEPIK/jannoon028 Ilustrasi masyarakat 5.0

JAKARTA, KOMPAS.com - Transformasi digital telah mengubah berbagai kebiasaan dan cara hidup masyarakat dan kalangan industri.

Pemerintah Jepang sudah mulai memperkenalkan Society 5.0 atau masyarakat 5.0 di mana teknologi digital diaplikasikan dan berpusat pada kehidupan manusia.

Dalam artikel Mayumi Fukuyama, pada laman Japan Economic Foundation, tujuan penerapan ini adalah untuk mewujudkan tempat di mana masyarakat dapat menikmati hidupnya.

Baca juga: LJ Hooker: Agen Properti Harus Siap Hadapi Industri 4.0

Pertumbuhan ekonomi dan perkembangan teknologi seharusnya bertujuan untuk itu, dan bukan hanya bagi sebagian kalangan.

Dalam hal ini, big data dan Internet of Things akan berubah bentuk menjadi kecerdasan buatan yang menyentuh setiap aspek kehidupan masyarakat.

"Era ini akan mengubah kebiasaan dan kehidupan dalam berbagai aspek, seperti kesehatan, finasial, monilitas, infrastruktur, dan-lain-lain," kata Fukuyama.

Bahkan dalam ajang World Economic Forum (WEF), Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe menjelaskan visinya mengenai masyarakat 5.0.

Abe mengatakan pentingnya masyarakat yang didorong oleh data tanpa batas dan pengelolaan data di seluruh dunia untuk meningkatkan pertumbuhan pada masa depan.

"Di masyarakat 5.0, bukan lagi modal, namun data yang menghubungkan dan menggerakkan segalanya, membantu mengisi kesenjangan antara yang kaya dan kurang beruntung," ujar Abe.

"Layanan kesehatan dan pendidikan, dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi akan menyentuh desa-desa di kawasan terpencil," imbuh dia.

Masyarakat 5.0 dalam mobilitas dan infrastruktur

Di Jepang, berkurangnya populasi berdampak pada banyaknya wilayah yang tak lagi memiliki penduduk.

Selain itu, negara ini juga mengalami kekurangan tenaga kerja produktif. Bahkan sekitar 26 persen penduduk di Jepang berusia di atas 65 tahun. 

Hal ini mengakibatkan masyarakat yang tinggal di wilayah yang kekurangan penduduk kesulitan mendapatkan akses transportasi yang layak ke berbagai fasilitas pelayanan, seperti rumah sakit dan kantor pemerintah.

Halaman:



Close Ads X