Cegah Banjir di Kota Bima, Normalisasi Sungai Dilanjutkan

Kompas.com - 18/01/2019, 23:00 WIB
Normalisasi Sungai Padolo dan Melayu di Kota Bima dan Kabupaten Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Kementerian PUPRNormalisasi Sungai Padolo dan Melayu di Kota Bima dan Kabupaten Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat.

JAKARTA, KOMPAS.com – Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melanjutkan normalisasi dan pelebaran Sungai Padolo dan Melayu yang melewati Kota Bima dan Kabupaten Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat. 

Tindakan ini dilakukan untuk mencegah terulangnya banjir besar yang pernah terjadi di wilayah tersebut.

Pelaksanaan normalisasi sungai ini pun bertujuan untuk meningkatkan kondisi sungai dan pengendalian daya rusaknya, misalnya dengan memperkuat tebing sungai, serta memperbaiki dan memasang bronjong.

Menteri PUPR Basuki Hadimuljono menuturkan, pengelolaan sumber daya air di Indonesia menghadapi tantangan perubahan iklim.

Hal itu ditunjukkan melalui pergeseran dan perubahan pada musim hujan dan kemarau, perubahan temperatur, cuaca, serta pola hujan yang durasinya cenderung lebih pendek, tetapi dengan intensitas yang tinggi sehingga berakibat banjir.

Baca juga: Cara Kerja Bendungan Sukamahi dan Ciawi Kurangi Banjir Jakarta

"Penghijauan memang harus, tetapi dampaknya baru akan terasa 15-20 tahun yang akan datang. Kita ingin dalam waktu dekat tidak terjadi lagi banjir," ujar Basuki melalui keterangan tertulis, Jumat (18/1/2019).

Normalisasi dan pelebaran Sungai Padolo dan Melayu di Kota Bima dan Kabupaten Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat.Kementerian PUPR Normalisasi dan pelebaran Sungai Padolo dan Melayu di Kota Bima dan Kabupaten Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Sementara itu, menurut Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Nusa Tenggara I Asdin Julaidy, normalisasi sungai diprioritaskan di sungai yang melewati permukiman dan persawahan, yakni Sungai Padolo dan Melayu.

Hal itu dilakukan dengan memperlebar sungai dari sekitar 8 meter menjadi 25 meter sepanjang 8 kilometer. Pengerukan sedimen pun dilakukan agar kapasitasnya bertambah.

Asdin memaparkan, banjir bandang yang menerjang Kota Bima pada 2016 merupakan akibat dari berkurangnya hutan di wilayah hulu dan terjadinya penyempitan serta sedimentasi di hilir sungai akibat semakin banyaknya warga yang tinggal di bantaran sungai.

Semakin banyaknya sampah juga menjadi salah satu penyebab air sungai meluap ke kota tersebut.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X