Alasan Adhi Karya Bangun LRT Jabodebek Layang

Kompas.com - 14/01/2019, 16:00 WIB
Suasana pembangunan proyek transportasi masal Light Rail Transit (LRT) di sepanjang Tol Jagorawi, Kampung Makasar, Jakarta Timur, Minggu (23/7/2017). Direktur Utama PT Adhi Karya Tbk, Budhi Harto mengungkapkan, nilai pembangunan prasarana LRT Jabodebek di kontrak awal sebesar Rp23,39 triliun sudah termasuk PPN 10 persen. Namun, setelah dihitung lagi, ongkos konstruksi LRT dapat ditekan lebih murah menjadi Rp 19,7 triliun dan belum termasuk PPN 10 persen dan sesuai arahan Presiden Jokowi, pemerintah akan tetap mengejar target penyelesaian proyek LRT Jabodebek pada awal 2019. ANTARAFOTO/Yulius Satria Wijaya/foc/17.ANTARA FOTO/Yulius Satria Wijaya Suasana pembangunan proyek transportasi masal Light Rail Transit (LRT) di sepanjang Tol Jagorawi, Kampung Makasar, Jakarta Timur, Minggu (23/7/2017). Direktur Utama PT Adhi Karya Tbk, Budhi Harto mengungkapkan, nilai pembangunan prasarana LRT Jabodebek di kontrak awal sebesar Rp23,39 triliun sudah termasuk PPN 10 persen. Namun, setelah dihitung lagi, ongkos konstruksi LRT dapat ditekan lebih murah menjadi Rp 19,7 triliun dan belum termasuk PPN 10 persen dan sesuai arahan Presiden Jokowi, pemerintah akan tetap mengejar target penyelesaian proyek LRT Jabodebek pada awal 2019. ANTARAFOTO/Yulius Satria Wijaya/foc/17.

JAKARTA, KOMPAS.com - Konstruksi proyek Light Rail Transit (LRT) Jabodebek yang digarap PT Adhi Karya (Persero) Tbk dibuat 100 persen melayang (elevated).

Namun, Wakil Presiden Jusuf Kalla mengkritik pembangunan tersebut. Selain karena letaknya yang bersebelahan dengan jalan tol, juga konstruksinya yang dibuat melayang.

Direktur Adhi Karya Budi Harto pun angkat bicara soal alasan pemilihan konstruksi layang yang diterapkan pada proyek tersebut.

Menurut dia, kalau dibangun tepat di atas tanah, maka akan memunculkan banyak perlintasan sebidang. Pada gilirannya, tujuan akhir dari pembangunan LRT yakni untuk memperlancar arus lalu lintas tidak tercapai.

"Karena banyak persimpangan, sehingga lalu lintas kereta dan jalan raya tidak akan lancar, terganggu," kata Budi menjawab Kompas.com, Senin (14/1/2019).

Dengan menghilangkan perlintasan sebidang, maka kapasitas jalan akan semakin tinggi karena tidak ada gangguan kereta yang lewat. Selain itu, potensi kecelakaan antara kereta dengan kendaraan dapat diminimalisasi.

Alasan lainnya yakni memastikan kapasitas lintas maupun frekuensi perjalanan kereta dapat maksimum tanpa mengganggu jalur lalu lintas lain.

Selain itu, banyak flyover dan jembatan penyeberangan orang serta konstruksi lainnya yang dibangun di sepanjang jalur LRT.

"Lalu, menjaga kelandaian minimimum jalur (maksimum 2 persen), bila trase vertikalnya turun naik akan mengurangi kenyamanan penumpang dan juga sarananya membutuhkan daya yang besar sehingga boros listrik/ biaya operasional dan biaya perawatan," tutur Budi.

Konstruksi layang juga meminimalisasi pembebasan lahan yang harus dilakukan. Sebab, bila menggunakan konstruksi di atas tanah (at grade) dibutuhkan ruang bebas yang lebih lebar.

Di samping itu, dengan konstruksi layang, ruang di bawahnya masih bisa difungsikan saat konstruksi selesai, sehingga penggunaan lahan menjadi lebih efisien.

"Terakhir, meminimalkan masalah sosial atau gangguan dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab seperti halnya yang sering terjadi pada jalur at grade," tuntas Budi.



Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Close Ads X