Agar Pengguna Kendaraan Pribadi Jera, Naikkan Tarif Parkir - Kompas.com

Agar Pengguna Kendaraan Pribadi Jera, Naikkan Tarif Parkir

Kompas.com - 11/01/2019, 17:00 WIB
Ilustrasi shutterstock Ilustrasi

JAKARTA, KOMPAS.com - Selain kualitas angkutan umum perkotaan kurang layak, masih banyaknya lahan parkir di kota-kota besar menjadi alasan orang cenderung menggunakan kendaraan pribadi daripada angkutan umum.

Country Director Institute for Transportation and Development Policy (ITDP) Indonesia Yoga Adiwinarto menyebut, di Jakarta, tepatnya sepanjang koridor Jalan Sudirman-Thamrin saja, setidaknya terdapat 38.000 ruang parkir.

Baca juga: Rp 65 Triliun Hilang Per Tahun akibat Kemacetan di Jadebotabek

"Itu baru yang di gedung-gedung yang berbatasan langsung dengan pinggir jalan yang kita hitung. Belum termasuk yang di belakangnya," kata Yoga kepada Kompas.com, Jumat (11/1/2019).

"Lahan parkir di Jakarta masih terlalu banyak, sehingga itulah yanng mengundang orang utnuk menggunakan kendaraan pribadi," imbuh dia.

Keberadaan lahan parkir tersebut seharusnya ditinjau ulang. Pasalnya, tak jarang ada park and ride yang sengaja dibangun dengan tujuan agar orang beralih menggunakan transportasi umum, justru lebih dimanfaatkan oleh para pekerja yang berkantor di sekitar lokasi.

Baca juga: Integrasi Angkutan Massal Harus Mencakup Rute dan Tarif

Salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk membuat pengguna kendaraan pribadi jera yakni dengan menaikkan tarif parkir.

Seperti diketahui, tarif parkir yang berlaku saat ini adalah Rp 4.000 per jam untuk kendaraan roda empat dan Rp 2.000 per jam untuk kendaraan roda dua.

Tarif dapat lebih murah bila pengguna kendaraan berlangganan setiap bulannya. Tentunya, tarif tersebut dinilai masih terlalu murah dan tidak akan membuat masyarakat berpindah menggunakan transportasi umum.

"Kenapa bayar mahal? Karena pemerintah sudah fasilitasi pergerakkannya dengan angkutan umum supaya lebih efisien. Kalau bandel, ya mohon maaf orang itu dipinalti," tuntas Yoga.



Close Ads X