Penjualan Apartemen Tahun Ini Terburuk dalam Satu Dekade

Kompas.com - 20/12/2018, 15:44 WIB
Ilustrasi apartemenThinkstock Ilustrasi apartemen

JAKARTA, KOMPAS.com — Penjualan apartemen di Jakarta tahun 2018 dinilai sebagai yang terburuk dalam sepuluh tahun terakhir, yakni hanya 63 persen dari pasokan yang masuk pasar.

Betapa tidak, kurva penjualan terus melorot hingga hanya 1.900 unit yang terserap terhadap total pasokan 4.000 unit tahun ini.

Sementara catatan penjualan tahun-tahun sebelumnya masih bertengger di angka lebih dari 6.000 unit pada 2017, sekitar 10.500 unit pada 2016, dan 11.000 unit pada 2015.

Adapun total pasokan kumulatif eksisting sebanyak 146.300 unit. Jakarta Utara berkontribusi sebanyak 20 persen, Jakarta Barat 20 persen, CBD Jakarta 19 persen, Jakarta Selatan 18 persen, 16 persen Jakarta Pusat, dan 7 persen Jakarta Timur.

Sementara pasokan baru hingga 2022 mendatang, dari hasil riset Savills Indonesia, akan sebanyak 65.300 unit atau 14.800 unit per tahun. Kontributor terbanyak wilayah Jakarta Barat dan Jakarta Selatan dengan angka 31 persen.

Anjloknya penjualan apartemen ini, menurut Head of Research Savills Indonesia Anton Sitorus, disebabkan pasokan semakin berkurang, dan aksi tunggu (wait and see) hingga kondisi ekonomi menunjukkan kepastian.

" Apartemen paling laku adalah untuk kelas menengah-atas sekitar 80 persen. Paling sedikit apartemen mewah. Karena kelas ini harganya paling tinggi dan pasokan terbatas," tutur Anton menjawab Kompas.com, Rabu (19/12/2018).

Kinerja penjualan yang terus turun akibat aksi tunggu investor ini juga diakui Direktur KG Global Development Petter Hendrady.

Baca juga: Seharga 5.000 Dollar AS Per Meter Persegi, Regent Residence Terjual 45 Persen

Petter mengatakan, banyak investor menunda pembelian karena ingin mengetahui lebih jelas mengenai deregulasi fiskal yang diwacanakan pemerintah.

Terutama kebijakan Kementerian Keuangan (Kemkeu) tentang rencana penghapusan Pajak Penghasilan Pasal 22 (PPh 22) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) atas properti. 

Karena itu, menurut Petter, KG Global Development berani menunda penjualan 60 unit Regent Residences di kompleks Mangkuluhur City, Jakarta.

Jika kejelasan sudah didapat, sambung Petter, banyak investor dan end user yang tertarik. Pada gilirannya, harga Regent Residence pun bakal melonjak.

"Penjualan kami hold dulu, menunggu kebijakan fiskal jelas dulu," ucap Petter.

Harga tertekan

Menurut Anton, turunnya kinerja penjualan mengakibatkan harga jual apartemen terus tertekan. Hingga kuartal III-2018, harga rata-rata tak beranjak dari angka Rp 26,4 juta per meter persegi.

Untuk kelas menengah-bawah masih berada pada posisi mulai dari Rp 15 juta per meter persegi.

Kelas menengah-menengah Rp 22 juta per meter persegi. menengah ke atas Rp 35 juta per meter persegi, kelas atas Rp 42 juta per meter persegi, dan kelas high end atau mewah Rp 58 juta per meter persegi. 



Close Ads X