2019, Permintaan Kawasan Industri Diprediski Masih Lemah

Kompas.com - 14/12/2018, 19:00 WIB
Aktivitas pekerja PT Crompton Prima Switchgear Indonesia (CPSI) di Kawasan Industri Modern Cikande, Banten, Senin (20/08/2018). PT CPSI yang merupakan pabrik Switchgear Tegangan Tinggi (TT) dan Tegangan Ekstra Tinggi (TET) pertama di Indonesia.ANDREAS LUKAS ALTOBELI Aktivitas pekerja PT Crompton Prima Switchgear Indonesia (CPSI) di Kawasan Industri Modern Cikande, Banten, Senin (20/08/2018). PT CPSI yang merupakan pabrik Switchgear Tegangan Tinggi (TT) dan Tegangan Ekstra Tinggi (TET) pertama di Indonesia.

JAKARTA, KOMPAS.com - Leads Property Indonesia memprediksi permintaan lahan di kawasan industri pada tahun 2019 masih tetap lemah, hal ini seiring dengan perhelatan Pemilihan Presiden.

Oleh karena itu, Leads tidak melihat ada peningkatan yang signifikan dalam segmen pasokan lahan industri.

Meskipun pemerintah punya rencana mendistribusikan kawasan industri secara merata di Pulau Jawa seperti Cirbon dengan tambahan pasokan dari 2.000 hektar menjadi 10.000 hektar, namun konsentrasi tertinggi masih tetap berada di area Jakarta dan kota penyangga.

"Selain itu, sebagian besar investor masih melakukan aksi wait and see terhadap situasi yang berkembang," kata CEO Leads Property Indonesia kepada Kompas.com.

Baca juga: 2019, Surya Semesta Fokus Pengembangan Subang City of Industry

Kendati demikian, Hendra memastikan, harga lahan industri akan tetap stabil setelah mengalami sedikit penuruanan 1,52 persen sebagai dampak melemahnya permintaan dan menguatnya nilai tukar dollar AS terhadap Rupiah.

Saat ini, harga lahan industri berada pada kisaran Rp 2,71 juta per meter persegi atau setara dengan 182,06 dollar AS per meter persegi.

Terlepas dari penurunan harga jual, biaya pemeliharaan rata-rata justru malah meningkat 1,15 persen menjadi Rp 880 per meter persegi.

Secara keseluruhan Leads mencatat, pasokan kumulatif tahun ini seluas 11.496 hektar. Selama kuartal III-2018, tidak ada pasokan lahan industri baru yang masuk pasar.

Distribusi pasokan tertinggi ada di Bekasi (42 persen), Karawang & Purwakarta (31 persen), diikuti oleh Serang (9 persen), Cilegon dan Jakarta (6 persen), Tangerang (5 persen), dan Bogor (1 persen).

Sementara permintaan kumulatif sekitar 9.826 hektar, atau 1,62 persen lebih tinggi ketimbang tahun 2017 lalu.

Tingkat serapan kuartal ini seluas 38,2 hektar atau 39,7 persen dari total serapan sepanjang tahun seluas 96,5 hektar.

Tanah yang terserap dipergunakan untuk sektor industri makanan, otomotif, manufaktur dan bahan kimia. 



Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Close Ads X