Tahan Gempa, Rumah Subsidi di Palu Ini Terjangkau bagi MBR - Kompas.com

Tahan Gempa, Rumah Subsidi di Palu Ini Terjangkau bagi MBR

Kompas.com - 02/10/2018, 21:35 WIB
Perumahan Kelapa Gading di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Perumahan ini sedianya diresmikan Presiden Joko Widodo pada Senin (1/10/2018).Kementerian PUPR Perumahan Kelapa Gading di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Perumahan ini sedianya diresmikan Presiden Joko Widodo pada Senin (1/10/2018).

PALU, KOMPAS.com - Bagi pasangan suami istri, Muhammad Basri dan Dasriani, yang berprofesi sebagai penjual ikan, memiliki rumah adalah sebuah impian yang besar.

Sudah sejak empat bulan terakhir mereka menjadi penghuni salah satu rumah subsidi yang berada di Perumahan Kelapa Gading, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah.

Rumah yang mereka beli pada 2017 ini termasuk salah satu yang terguncang ketika gempa melanda wilayah Palu dan Donggala pada Jumat (28/9/2018).

Beruntung, rumah tersebut dapat bertahan. Meski rumah subsidi, tetapi pengembang perumahan ini, PT Abdi Jasa Developer, menerapkan standar bangunan yang ditetapkan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Salah satu alasan yang mendasari mereka membeli rumah tersebut yaitu harganya yang murah dan cicilannya yang relatif terjangkau.

"Hanya Rp 1,2 juta per bulan (cicilannya). Sama dengan bayar kontrakan Rp 1 juta per bulan. Daripada menyewa, lebih baik membeli," kata Dasriani kepada Kompas.com, Selasa (2/10/2018).

Dilihat dari profesinya, pekerjaan mereka tergolong ke dalam pekerjaan sektor informal dan masuk sebagai salah satu kalangan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

Kementerian PUPR sendiri memiliki skema subsidi pembiayaan perumahan bagi mereka yang tergolong kelompok MBR, di antaranya melalui subsidi selisih bunga (SSB) dan subsidi bantuan uang muka (SBUM).

Dasriani dan Basri hanya diwajibkan membayar Rp 3 juta untuk memiliki hunian senilai Rp 136 juta ini. Ringannya uang muka ini karena ada bantuan SBUM sebesar Rp 4 juta yang diberikan kepada MBR.

Dengan kewajiban membayar uang muka sebesar 5 persen dari harga jual, maka besaran uang muka yang harus dibayar keduanya hanya Rp 3 juta setelah mendapat tambahan bantuan SBUM.

"Saya beli ini karena fasilitasnya sudah bagus, terutama fasilitas umum dan infrastrukturnya. Untuk fasilitas umumnya sendiri sudah berdiri masjid dan sekolah," kata dia.

Baca juga: Meski Diguncang Gempa, Perumahan Kelapa Gading Tak Alami Kerusakan

PT Abdi Jasa Developer sudah mulai mengembangkan perumahan ini sejak 2012. Dengan luas lahan mencapai 82 hektar, jumlah rumah yang hendak dibangun mencapai 6.500 unit.

Hingga akhir 2018, ditargetkan 1.904 unit rumah terbangun. Rinciannya, 1.404 unit merupakan rumah subsidi dan 500 unit sisanya merupakan rumah komersial dengan tipe bervariasi mulai dari 40, 45, dan 50.

Namun, saat ini realisasinya baru 826 unit rumah subsidi dan 241 unit rumah komersial yang terbangun.

Menurut Basri, sebenarnya banyak rekan-rekan mereka yang juga bekerja di sektor informal yang tertarik membeli rumah subsidi ini. Kendati demikian, tidak sedikit dari mereka yang hingga kini terkendala masalah administrasi perbankan.

"Saya bisa beli karena pakai KPR BRI Syariah," kata Basri.

Di samping memiliki kualitas yang mumpuni, lokasi perumahan ini juga cukup strategis. Letaknya hanya berjarak sekitar enam menit dari Bandara Mutiara Sis Al Jufri. Sementara itu, jarak menuju pusat Kota Palu dan Kabupaten Sigi dapat ditempuh dalam waktu 15 menit.

Rincian proyek Perumahan Kelapa Gading di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. KOMPAS.com/HILDA B ALEXANDER Rincian proyek Perumahan Kelapa Gading di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah.

Tahan gempa

Perumahan yang dibangun dengan aturan standar Kementerian PUPR ini dapat dikatakan tahan uji, terutama pada blok rumah subsidi. Tidak ada kerusakan fisik pada bangunan.

Kompas.com menyempatkan diri untuk melihat langsung perumahan yang sedianya akan diresmikan Presiden Joko Widodo pada Senin (1/10/2018) itu, dan hanya mendapati retak-retak minor.

Itu pun hanya pada bangunan rumah yang sudah mengalami penambahan ruang yang dibangun sendiri oleh warga pemilik.

Misalnya pada rumah yang dihuni Sabri dan Dasriani. Retak halus atau retak rambut terpantau pada bagian ruang belakang yang berfungsi sebagai dapur.

"Kami menambahkan sendiri bangunan dapur ini. Karena waktu itu tanah di belakang masih luas. Jadi kami manfaatkan sekalian," kata Sabri.

Baca juga: Bantu Pemerintah, Kontraktor Ikut Tangani Bangunan Rusak Pasca-gempa

Direktur Utama PT Abdi Jasa Developer Suparman menjelaskan, Perumahan Kelapa Gading bisa bebas dari retak dan rusak walau diguncang gempa karena dibangun dengan fondasi batu kosong.

Batu kosong ini berfungsi sebagai penyeimbang gerakan jika terjadi getaran kuat yang disebabkan oleh gempa.

Fondasi batu kosong ini terdiri dari campuran batu dan pasir tanpa semen yang ditempatkan pada lapisan paling bawah bagian dasar bangunan.

Selain itu, Suparman mengaku, pihaknya membangun Perumahan Kelapa Gading berdasarkan spesifikasi yang ditetapkan Kementerian PUPR.

"Kami pakai besi ukuran 10 SNI. Tiang kolom ada sedikit modifikasi, jika spek pemerintah 15 x 15, kami gunakan 10 x 20," jelas Suparman.

Sebagai perumahan subsidi untuk MBR, Perumahan Kelapa Gading mendapat bantuan prasarana sarana umum (PSU) berupa jalan lingkungan bercor beton.

Sementara fasilitas umum dan sosial, seperti tempat ibadah (masjid), sekolah, lapangan olahraga dan taman, disediakan oleh pengembang.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Close Ads X