Tiga Hal tentang Milenial yang Harus Diperhatikan Pengembang Properti

Kompas.com - 25/09/2018, 22:30 WIB
Perencana tata kota Yulia S (paling kiri) dalam diskusi Housing Talks bertema ?Hunian Milenial?, Selasa (25/9/2018) di Jakarta Convention Center.KOMPAS.com/ERWIN HUTAPEA Perencana tata kota Yulia S (paling kiri) dalam diskusi Housing Talks bertema ?Hunian Milenial?, Selasa (25/9/2018) di Jakarta Convention Center.

JAKARTA, KOMPAS.com – Perencana tata kota Yulia S mengatakan, ada tiga hal yang perlu diperhatikan dalam menghadirkan hunian bagi generasi milenial.

Hal pertama adalah kepemilikan atau ownership.

“Kalau merancang produk properti untuk milenial, penting untuk mengetahui tiga value dalam hidup mereka. Yang pertama, mereka tidak tertarik dengan ownership,” ujar Yulia dalam diskusi Housing Talks bertema “Hunian Milenial” di Jakarta Convention Center, Selasa (25/9/2018).

Ownership adalah kepemilikan terhadap sesuatu yang bernilai tinggi, termasuk rumah dan kendaraan.

Baca juga: Milenial, Generasi Seksi yang Makin Diperebutkan

Kalangan milenial yang belum berkeluarga, dinilai tidak terlalu memikirkan ke arah sana. Pasalnya, segala kebutuhan hidup mereka sudah cukup terpenuhi dengan berbagai fasilitas dan kemudahan yang ada sekarang.

Misalnya, untuk bepergian mereka bisa menggunakan transportasi berbasis digital semacam Go-Jek dan Grab. Kemudian, untuk tempat tinggal mereka bisa menyewa atau mengontrak rumah.

Hal kedua yaitu tanggung jawab sosial. Generasi milenial ternyata tidak hanya mementingkan bisnis atau pekerjaan mereka, tetapi juga memiliki kepedulian sosial.

Kepedulian itu diwujudkan antara lain melalui keikutsertaan dalam organisasi sosial.

“Mereka peduli, punya social responsible. Jadi tidak cuma berbisnis, tapi berorientasi pada tanggung jawab sosial melalui organisasi sosial,” kata Yulia.

Baca juga: Incar Pasar Milenial, Ciputra Rilis Produk Baru di Pontianak

Terakhir, menurut dia, hal yang perlu diperhatikan dari kaum milenial yaitu menyangkut penggunaan media sosial.

Selain sebagai sarana sosialisasi, mereka memanfaatkan aplikasi digital untuk saling berbagi dan mendapatkan rekomendasi tentang berbagai hal, termasuk kebutuhan hidup.

Mereka menganggap bahwa informasi yang didapat dari teman seumuran lebih bisa dipercaya dibandingkan iklan yang dilihat di media massa. Hal itu berlaku untuk berbagai produk, apa pun itu.

“Mereka senang pakai media sosial. Jadi enggak terlalu percaya pada iklan, tapi lebih percaya rekomendasi sesama milenial," cetus Yulia.

Ketiga hal itu perlu diperhatikan, terutama oleh para pengembang, agar bisa membuat strategi pemasaran untuk proyek propertinya sehingga lebih cocok dengan target pasarnya.



Close Ads X