Teknologi Kerakyatan dan Upaya Bersahabat dengan Gempa

Kompas.com - 24/08/2018, 10:08 WIB
Warga memeriksa rumah mereka yang roboh di desa Sembalun, pulau Lombok pada 20 Agustus 2018 setelah serangkaian gempa bumi dicatat oleh seismolog sepanjang 19 Agustus. Menurut laporan pihak berwenang pada Senin (20/8/2018), setidaknya 10 orang tewas setelah serangkaian gempa kuat mengguncang pulau Lombok. Ini merupakan gempa baru yang berbeda dari gempa berkekuatan M 7,0 pada Minggu (5/8/2018) yang telah menewaskan ratusan nyawa dan ribuan orang kehilangan tempat tinggal. Warga memeriksa rumah mereka yang roboh di desa Sembalun, pulau Lombok pada 20 Agustus 2018 setelah serangkaian gempa bumi dicatat oleh seismolog sepanjang 19 Agustus. Menurut laporan pihak berwenang pada Senin (20/8/2018), setidaknya 10 orang tewas setelah serangkaian gempa kuat mengguncang pulau Lombok. Ini merupakan gempa baru yang berbeda dari gempa berkekuatan M 7,0 pada Minggu (5/8/2018) yang telah menewaskan ratusan nyawa dan ribuan orang kehilangan tempat tinggal.

NEGERI kita kembali berduka dengan gempa bumi besar yang melanda Pulau Lombok dan sekitarnya hingga getarannya terasa di Bali dan Jawa Timur.

Korban jiwa yang ditimbulkan termasuk besar. Per 11 Agustus, BNPB menyebut 387 korban jiwa ditimbulkan akibat bencana itu.

Kemungkinan korban bisa bertambah mengingat masih ada beberapa daerah yang belum terjangkau untuk proses tanggap darurat dan evakuasi. Termasuk juga kemungkinan korban yang masih hidup, tetapi tertimbun reruntuhan bangunan.

Indonesia memang berada di antara sekian banyak patahan aktif yang sewaktu-waktu mengalami pergerakan dan mengakibatkan gempa tektonik besar.

Secara ilmiah, sebenarnya tidak ada yang namanya bencana, yang ada adalah peristiwa alam untuk menemukan keseimbangan barunya.

Gempa juga bukanlah penyebab utama timbulnya korban jiwa, tetapi efek sekundernyalah yang membahayakan manusia, yaitu robohnya bangunan.

Hingga saat ini belum ada teknologi di dunia yang mampu mendeteksi kapan terjadinya gempa bumi tektonik.

Oleh karena itu, tidak ada pilihan bagi kita selain harus bersahabat dengan "peristiwa alam" ini melalui pembelajaran dan penelitian ilmiah untuk mencegah korban jiwa.

Yang bisa dilakukan para ilmuwan hingga saat ini adalah memperkirakan besarnya magnitudo gempa dan periode berulangnya kejadian gempa.

Periode berulang tersebut dapat dikategorikan  menjadi beberapa waktu. Ada gempa setiap 50 tahun, 500 tahun, dan 1000 tahun. Tentu sangat sulit memprediksi kapan tepatnya periode ulangan tersebut terjadi.

Halaman:
Baca tentang


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X