Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Arsitektur Neogotik di Indonesia, Replikasi Gaya Gotik Eropa

Kompas.com, 16 Juli 2018, 12:53 WIB
Rosiana Haryanti,
Hilda B Alexander

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Arsitektur Gotik merupakan arsitektur besar yang pernah merajai Eropa selama sekitar 400 tahun. Dari tahun 1.000 hingga tahun 1.400.

Arsitektur ini banyak digunakan dalam beragam bangunan, baik sekuler maupun peribadatan. Gaya arsitektur ini sangat dominan diguanakan pada abad Pertengahan, dan tersebar mulai dari Perancis bagian utara, Inggris, Eropa Tengah, Skandinavia bahkan ke timur dekat.

Pada masa awal perkembangannya, Eropa dilanda masa yang lebih tenteram. Gedung gereja diarahkan untuk memberi kesan Tuhan yang besar dan manusia yang dikecilkan. Konsep ini diterjemahkan ke dalam pembangunan gedung yang bersifat monumental.

Ciri khas arsitektur Gotik di Eropa

Salah satu yang menonjol adalah menara. Pada bangunan Gotik abad pertengahan, menara menjadi salah satu hal yang paling menonjol pada gaya ini.

Selain itu, penggunaan gargoyle atau patung yang mirip dengan gambaran setan sebagai elemen dekorasi. Patung-patung ini menjadi salah satu ciri khas bangunan bergaya Gotik.

Aslinya patung-patung gargoyle ini berguna sebagai penyalur air agar air hujan tidak langsung membasahi bangunan gedung.

Atap gedung dibuat sangat tinggi, namun rawan terhadap tekukan dan gulingan. Untuk mengatasinya, para arsitek menggunakan flying butress atau penopang pada sisi-sisi bangunan sebagai penyalur gaya. Belakangan flying butress ini menjadi salah satu ciri bangunan zaman Gotik.

Arsitek yang menerapkan hal itu misalnya, Abbot Sugger (Gereja St Denisse), Pierre de Montreuil (Katedral Notre Damme dan Abbey St Germain) serta arsitek Villard de Hunnecourt.

Perkembangan arsitektur Neogotik di Indonesia

Di Indonesia, arsitektur Neogotik dibawa oleh arsitek belanda generasi CPW Schoemaker serta H Maclaine Pont pada tahun 1920-an.

Arsitek tersebut banyak membangun berbagai bangunan yang kini jadi monumen di kota-kota besar seperti Batavia, Bandung, Semarang, dan Surabaya.

Gereja Katedral JakartaBernardus Djonoputro Gereja Katedral Jakarta
Disebut Neogotik, karena model ini menyeruapai arsitektur Gotik di Eropa. Pada arsitektur Gotik yang asli, langit-langit bangunan dibuat dari batu alam dan merupakan kesatuan konstruksi sebagai penyangga atap.

Dengan banyaknya keterbatasan, bangunan Neogotik di Hindia pada waktu itu cenderung dibuat lebih simpel dan efisien.

Secara garis besar hanya bentuk dasar bangunan saja yang diambil. Penggunaan menara, meski tidak semuanya fungsional tetap dipertahankan.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau