Arsitektur Rumah Betawi, Sarat Nilai Filosofis - Kompas.com

Arsitektur Rumah Betawi, Sarat Nilai Filosofis

Kompas.com - 11/07/2018, 13:34 WIB
Rumah Betawi di Pulau Bidadari, Sabtu (21/4/2018). KOMPAS.com/JESSI CARINA Rumah Betawi di Pulau Bidadari, Sabtu (21/4/2018).

KOMPAS.com - Seni arsitektur suatu daerah atau masyarakat biasanya tergantung pada kondisi geografis wiilayahnya. Seperti rumah panggung di wilayah rawa atau rumah tapak di wilayah pedalaman.

Namun ternyata arsitektur rumah Betawi memiliki beragam jenis. Masyarakat Betawi mengenal dua jenis rumah tradisional, yakni rumah panggung dan rumah darat. Variasi pola arsitektur rumah sesuai dengan rentang sebaran masyarakatnya.

Rumah panggung identik dengan masyarakat yang tinggal di daerah pesisir atau daerah berawa-rawa. Sedangkan rumah darat identik dengan masyarakat di kawasan pedalaman yang hidup dari bercocok tanam.

Dalam rumah Betawi terdapat tiga wilayah yang meliputi kawasan publik atau ruang tamu, kawasan privat ruang tengah dan kamar, serta kawasan servis atau dapur.

Dalam bahasa Betawi, area ruang tamu ini disebut dengan amben, yang berupa ruang tanpa dinding.

Lalu area ruang tengah dan kamar disebut sebagai wilayah pangkeng. Sedangkan kawasan dapur yang berada di belakang disebut dengan srondoyan.

Masing-masing kawasan bisa merupakan bangunan sendiri atau bisa pula berupa satu rumah utuh yang terbagi menjadi tiga kawasan. Variasi ini tergantung pada status sosial ekonomi si pemilik rumah.

Jika dibagi menjadi tiga bangunan, maka pola setiap atap bangunan pun berbeda. Masing-masing pola atap bangunan ini bisa berupa atap pelana atau segitiga sama sisi.

Atap jenis ini jika dilihat dari samping akan berbentuk seperti lipatan kebaya. Sehingga banyak yang menyebut rumah adat Betawi sebagai rumah kebaya.

Selain itu, rumah adat Betawi juga memiliki jenis atap limas dengan dua buah tempat air hujan yang sudutnya berbeda. Bisa juga berupa atap dengan kombinasi kedua bentuk ini.

Dinding rumah adat Betawi terbuat dari beberapa panel yang dapat digeser ke tepinya. Hal ini membuat rumah terlihat lebih luas.

Lantai rumah Betawi biasanya hanya diplester semen, karena bahan ini lebih berpori dibanding keramik. Kanopi pada rumah Betawi juga dipasang lebih panjang karena tingginya curah hujan di kawasan ini.

Nilai sakral Rumah Betawi

Rumah panggung Betawi memiliki sudut yang dianggap sakral, yakni balaksuji. Balaksuji adalah konstruksi tangga yang terdapat di rumah panggung Betawi.

Tangga pada rumah Betawi ini sarat akan nilai filosofis, dan diidentikkan dengan prinsip tangga pada arsitektur kebudayanlain, seperti Borobudur atau Suku Inca kuno.

Balaksuji juga menggambarkan menggambarkan proses kesucian seseorang sebelum memasuki rumah.

Pada zaman dulu masyarakat Betawi membangun sumur di depan rumah, dan pemakaman di bagian samping. Idealnya jika ada sumur di depan rumah, maka siapa pun yang akan memasuki rumah harus membasuh kakinya terlebih dahulu, baru kemudian naik tangga.

Jadi ketika seseorang masuk ke dalam rumah, ia sudah dalam keadaan bersih dan suci.

Di rumah modern Betawi saat ini, banyak hal yang sudah hilang, termasuk bagian balaksuji. Namun di beberapa kampung, balaksuji ini masih dipertahankan dan digunakan di masjid kampung.

Balaksuji dipasang di tempat khotib berkhotbah dan menjadi tangga yang menuju ke mimbar. Nilai kesucian balaksuji kini dipertahankan di rumah ibadah.

Tak berbeda dengan masyarakat Jawa, masyarakat Betawi jua mengenal tradisi selamatan atau sedekah bumi. Mereka melakukannya ketika kuda-kuda atap rumah sudah sempurna berdiri.



Close Ads X