Ragam Rumah Jawa, Simbol Status Sosial

Kompas.com - 10/07/2018, 20:00 WIB
Pembuatan Rumah Joglo - Pekerja menggarap rumah joglo di PB Lestari, Dusun Krebet, Desa Sendangsari, Pajangan, Bantul, DI Yogyakarta, Jumat (23/1). Rumah tradisional Jawa tersebut dibuat berdasarkan pesanan dengan harga jual berkisar Rp 150 juta - Rp 250 juta per unit. Tempat usaha tersebut menjadi sumber  penghasilan bagi 50 pekerjanya.

Kompas/Ferganata Indra Riatmoko (DRA)
23-01-2015 FERGANATA INDRA RIATMOKO Pembuatan Rumah Joglo - Pekerja menggarap rumah joglo di PB Lestari, Dusun Krebet, Desa Sendangsari, Pajangan, Bantul, DI Yogyakarta, Jumat (23/1). Rumah tradisional Jawa tersebut dibuat berdasarkan pesanan dengan harga jual berkisar Rp 150 juta - Rp 250 juta per unit. Tempat usaha tersebut menjadi sumber penghasilan bagi 50 pekerjanya. Kompas/Ferganata Indra Riatmoko (DRA) 23-01-2015

KOMPAS.com - Rumah Jawa mencerminkan status sosial keluarga penghuninya. Bagi masyarakat Jawa rumah merupakan tempat untuk menampilkan kreasi dan seni.

Seni bangunannya telah melewati beberapa zaman, seperti zaman Mataram-Hindu, Kediri, Singosari, Majapahit, Demak, Pajang dan berakhir pada zaman Keraton Surakarta dan Yogyakarta.

Harian Kompas, 17 Juli 1983 menyebutkan, untuk mendirikan sebuah rumah, meski rumah tersebut kecil dan sederhana, masyarakat Jawa akan memikirkan soal letak tanah.

Dulu, dalam kepercayaan Jawa, masyarakat selalu membuat kamar dengan jumlah ganjil. Sebab jika kamar berjumlah genap, akan mendatangkan malapetaka. Namun kini kepercayaan tersebut perlahan sudah mulai terkikis.

Bangunan tradisional Jawa memiliki banyak ragam, mulai dari yang paling sederhana hingga bangunan yang tergolong mewah, yakni Panggangpe, Kampung, Limasan, Joglo, dan Tajug.

Rumah Panggangpe

Merupakan bentuk rumah paling sederhana, bahkan bisa dibilang yang paling rendah. Bangunan terdiri dari denah bujur sangkar atau persegi empat. Tiang penyangga bisa empat, enam, delapan, bahkan bisa lebih dari itu.

Untuk atap rumah terdiri dari satu sisi yang letaknya dibuat miring. Namun pada masa mendatang, rumah model ini bisa dikembangkan dengan menambah ukuran panjang atau lebar rumah.

Karena itu bentuk panggangpe bisa menjadi panggangpe trajumu, gedang salirang, gedung setangkep, cere gancet, kios, empyak setangkep, kodokat.

Bentuk rumah panggangpe bisa diperluas dan diberi penambahan. Model rumah ini masih bisa disaksikan di penginapan, pabrik, pasar, dan lain sebagainya.

Bentuk Kampung

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X