Sejak Zaman Kolonial, Kaca Patri Sudah Jadi Tren - Kompas.com

Sejak Zaman Kolonial, Kaca Patri Sudah Jadi Tren

Kompas.com - 09/07/2018, 21:28 WIB
Kaca patri pada Lawang Sewu ini masih tetap terlihat menarik kendati usianya sudah tua sekali.
KLINIK FOTOGRAFI KOMPAS, Tema: Tak Lekang Oleh WaktuSUPARLAN Kaca patri pada Lawang Sewu ini masih tetap terlihat menarik kendati usianya sudah tua sekali. KLINIK FOTOGRAFI KOMPAS, Tema: Tak Lekang Oleh Waktu

KOMPAS.com - Pada mulanya kaca patri merupakan kegiatan pelengkap yang berasal dari Eropa. Seni kaca patri sudah dikenal sejak abad ketiga Masehi. 

Seni kaca patri merupakan kerajinan tangan yang mesti dikerjakan dengan ketelitian, kehati-hatian, dan penuh dedikasi serta kesabaran.

Namun penggunaan bahan ini secara masif baru dimulai sejak abad ke-12, ketika zaman Gotik mengalami masa kejayaan. Pada masa ini, kaca patri identik dengan jendela pada gedung-gedung gereja.

Baca juga: Perjalanan Panjang si Kaca Patri

Di Indonesia seni kaca patri muncul sejak zaman Kolonial Belanda. Pada masa itu seni kaca patri menjadi ornamen penting yang tak terpisahkan dari arsitektur bangunan, mulai dari tempat ibadah, rumah, museum, perkantoran, stasiun kereta api, hingga istana raja.

Di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, atau Semarang, seni kaca patri masih bisa dinikmati di banyak bangunan kuno yang mengusung gaya art deco.

Pembuatan kaca patri di Bandung marak ketika Pemerintah Kolonial pada waktu itu ingin membangun miniatur kota Paris, yakni pada tahun 1920 hingga 1930-an.

Pada waktu itu, kaca patri mengalami kejayaan, bersamaan dengan pembangunan kota Bandung secara modern.

Sebut saja Gedung Sate, karya arsitek J Gerber, Hotel Homman yang dirancang AF Aalbers dan RA de Wal, lalu ada Vila Isola kaya Prof Wolff Schoemaker yang juga menggunakan material ini untuk memperindah tampilan bangunan.

Aula barat dan aula timur Institut Teknologi Bandung yang dibangun tahun 1920-an, menggunakan kaca patri bening transparan.Suganda, Her Aula barat dan aula timur Institut Teknologi Bandung yang dibangun tahun 1920-an, menggunakan kaca patri bening transparan.
Penggunaan kaca patri secara besar-besaran juga dilakukan pada aula barat dan timur Technische Hoogschool (sekarang Institut Teknologi Bandung).

Perancangnya, Ir Mclaine Pont sengaja menggunakan warna putih, sehingga sinar matahari dari luar bisa masuk dan menambah suasana menjadi lebih terang tanpa merasa panas ataupun silau.

Namun setelah zaman kolonial berakhir di era 1930-an, seni kaca patri pun ikut punah. Ini karena seniman dan arsitek kala itu hampir semuanya orang Belanda dan telah kembali ke negaranya.

Setelah era kemerdekaan, seni kaca patri muncul kembali dan marak digunakan di Indonesia pada tahun 1975, seperti dikutip dari Harian Kompas, 13 Agustus 2002.

Kaca patri kini tak hanya bisa dinikmati di bangunan-bangunan tua, namun telah bertransformasi ke dalam berbagai fungsi, misalnya kanopi, jendela pintu, penyekat ruangan, tempat lilin, pot, tempat lampu, hingga hiasan dending berbagai bentuk.

Rumah-rumah modern yang menggunakan kaca patri juga sudah berubah fungsinya, yakni sebagai penghias eksterior atau interior bangunan.

Kaca patri kini bisa ditemui di pintu utama rumah, jendela, ruang tamu, kamar mandi, bahkan juga berfungsi sebagai partisi atau langit-langit rumah.

Teknologi kaca patri juga terus berkembang. Dibandingkan kaca patri buatan zaman dulu, seni kaca patri sekarang bisa dibuat lebih berseni.

Rangka kaca juga beragam. Jika zaman dulu rangka kaca patri terbuat dari timah yang tidak kokoh, kini rangka tembaga dan seng bisa diperoleh dengan mudah, sehingga desain seni dapat sesuai dengan keinginan.


Komentar
Close Ads X