Mengenal Sistem Pondasi Cakar Ayam yang Mendunia

Kompas.com - 05/07/2018, 16:00 WIB
Area Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Sabtu (7/4/2018). KOMPAS.com / WAHYU ADITYO PRODJOArea Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Sabtu (7/4/2018).

KOMPAS.com - Sistem pondasi Cakar Ayam banyak digunakan dalam pembangunan. Penemunya adalah Prof. Ir. Sedyatmo Dr HC, salah satu tokoh insinyur sipil Indonesia.

Harian Kompas, 2 Maret 1974 menyebutkan, gagasan pondasi cakar ayam ini bermula ketika ia menjabat sebagai Direktur Konstruksi PLN.

Pada waktu itu PLN harus membangun jaringan listrik dari Ancol ke proyek Asian Games pada masa kepemimpinan Presiden Soekarno.

Baca juga: Profesor Sedyatmo, Tokoh di Balik Sistem Pondasi Cakar Ayam

Pembangunan tersebut membuatnya harus mendieikan beberapa buah tiang listrik tegangan tinggi di Ancol. Namun sayangnya pembangunan tersebut terkendala struktur tanah Ancol yang lembek.

Lapisan terkuat bahkan berada 25 meter di bawah permukaan tanah. Jika menggunakan cara biasa, pondasi tiang tersebut harus diberi beton sepanjang 25 meter.

Ketika sedang memikirkan masalah itulah, Sedyatmo kemudian mendapatkan ilham dari pohon kelapa tinggi yang dilihatnya di Pantai Cilincing.

Pohon ini berdiri tegak dan tak tergoyahkan, meski diterpa angin kencang. Kemudian ia membuat rancangan pondasi yang menyerupai akar-akar. Akar ini terdiri dari sejumlah pipa beton yang cukup panjang dan ditanam di dalam tanah.

Di atas pipa-pipa tersebut dipasang sebuah plat beton, sehingga pipa-pipa itu saling terhubung satu sama lain. Pipa ini kemudian ditautkan ke kerangka plat beton dengan baja pengait. Plat beton inilah yang menjadi landasan bagi tiang listrik tersebut.

Percobaannya berhasil dengan baik dan dikembangkan menjadi konstruksi jalan raya, karena dapat dibuat di bawah air dan di atas empang ikan.

Sistem pondasi ciptaan Sedyatmo tersebut cocok digunakan di jalan-jalan raya, jalan kereta api, landasan pelabuhan udara, bangunan, bahkan seluruh perkotaan terlebih untuk daerah yang memiliki struktur tanah lembek atau berawa.

Sistem ini diunggulkan karena mampu menopang beban di tanah yang lembek. Pondasi sistem Cakar Ayam juga mampu mengurangi biaya, material, dan waktu pengerjaan.

Daya dukungnya lebih tinggi dan tidak memerlukan sela-sela untuk menampung pengembangan akibat perubahan cuaca. Satu lagi, sistem ini tidak memerlulkan drainase dan sambungan kembang susut.

Nama Cakar Ayam pun diberikan karena konstruksi ini menyerupai cakar ayam. Jari-jari dan kuku ayam yang menusuk ke tanah dan berada di antaranya menjadi alasan pemberian nama ini.

Keberhasilan Sedyatmo dalam membuat konstruksi Cakar Ayam ini mengundang ketertarikan para ahli di Perancis.

Rasa penasaran tersebut kemudian berbuah dengan adanya uji skala penuh yang dilakukan dengan simulasi beban pesawat B 747 bermuatan penuh seberat 360 ton. Uji skala ini dilakukan di Landasan terminal udara Cengkareng.

Hasilnya dari beberapa kali pengujian, landasan dengan kosntruksi Cakar Ayam ini mampu menahan berat dan tekanan besar pesawat hingga 2000 ton.

Penemuannya ini telah dipublikasikan beberapa majalah luar negeri seperti Traffic Enginering, Le Genie Civil, dan lain-lain.

Bahkan majalah Foreign Research News menganugerahi Sedyatmo penghargaan dari Highway Research Board sebagai supporting member, seperti dikutip dari Harian Kompas, 7 April 1971. 

Pondasi Cakar Ayam ini telah diterapkan di beberapa bangunan seperti, ratusan menara PLN tegangan tinggi, apron Bandar Soekarno-Hatta, jalan akses Pluit-Cengkareng, dan masih banyak lagi.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X