Ketika Desain Sekolah Perbatasan Indonesia Menembus Publik Venesia Italia Halaman 1 - Kompas.com

Ketika Desain Sekolah Perbatasan Indonesia Menembus Publik Venesia Italia

Kompas.com - 03/06/2018, 23:20 WIB
Ilustrasi sebagian maket dari karya 11 Arsitek di Pameran In Between Boundaries 2018 di Venesia, Italia. BPA Studio | Asia Raya Studio | PWD Architecs | WAR Architecs Ilustrasi sebagian maket dari karya 11 Arsitek di Pameran In Between Boundaries 2018 di Venesia, Italia.

DI KOTA Venesia, Italia, dari 27 Mei sampai 27 November 2018, sebanyak 11 arsitek dari firma arsitek Indonesia menyuguhkan narasi, instalasi, ilustrasi digital, sampai konstruksi maket-maket arsitektural sekolah-sekolah di tapal batas atau biasa disebut daerah terdepan Indonesia.

Dari kuratorial yang disusun oleh Budi Pradono dengan firma Budi Pradono Architects, arsitek-arsitek itu ditantang menggambarkan Indonesia yang berbeda.

Sebuah proyek collareral event di Biennial Arsitektur Venesia 2018, yang diselenggarakan oleh European Cultural Centre dan Global Art Foundation di Palazzo Mora, Venesia itu senyatanya digagas dari situs-situs paling terpencil dan terdepan di Tanah Air. Lokasi geografisnya berbatasan dengan negara-negara tetangga.

Sebuah pameran yang disajikan memaknai artikulasi tegangan-tegangan antara yang memusat dan yang melokal lewat rancangan bangunan sekolah. Di tempat-tempat yang menjadi tapal batas bagi ingatan kolektif kita dan yang riil mengada.

Mereka membuat pernyataan bersama melalui lompatan-lompatan ide-ide imajinatif yang segar dan membebaskan.

Karya-karya desain aristektural itu dicirikan dengan merespons energi-energi yang kaya di tiap daerah, kuat berakar serta dinamis membuka cakrawala anyar.

Baca juga: Menafsir Fiksi, Menakar Spiritualisme

Memahami keterbatasan-keterbatasan sarana serta fasilitas, ketersediaan material alam pun bersetia pada akar-akar filosofi tradisi masing-masing suku dan etnisitas yang ratusan tahun bermukim di sana.

Para arsitek memilah dan memilih, ruang-ruang arsitektural yang akan dipresentasikan di tapal-tapal batas dari yang terserak di antara 17 ribu pulau di Nusantara.

Sekolah-sekolah yang diharapkan menjadi soko guru masa depan, yang membekali perilaku mental dan intelektualitas–intelektualitas generasi mendatang. 

Konsep itu dijabarkan manifestasinya dalam bentuk-bentuk organik, intim dengan lingkungan alam atau menafsirkannya dalam desain ruang-ruang partisipatif yang dianggap mewakili karakteristik masing-masih daerah tersebut.


Tafsiran kerangka kuratorial

Budi Pradono dalam satu kesempatan menyampaikan pada penulis bahwa konsep kuratorial di collateral event, yang mengusung 11 arsitek tahun ini dengan juluk “In Between Boundaries” tidak tiba-tiba mewujud begitu saja.

Baca juga: Semar-Semar yang Kita Butuhkan

Proses lama terjadi, tatkala pada 2016 ia memimpin sebuah proyek dari puluhan arsitek-arsitek Indonesia yang merespons soal “perbatasan” di Biennial Arsitektur Venesia.

Ilustrasi sebagian maket dari karya 11 arsitek di Pameran In Between Boundaries 2018 di Venesia. Foto: BPA StudioDok BPA Studio Ilustrasi sebagian maket dari karya 11 arsitek di Pameran In Between Boundaries 2018 di Venesia. Foto: BPA Studio
Waktu itu kurator utama Biennial Alejandro Aravena mengusung tema “Reporting from The Front” yang membincangkan kondisi Eropa pada masa yang paling krusial, menghadapi krisis pengungsi dari Timur Tengah.

Selain itu, mata uang Eropa yang merosot drastis, ekonomi global lesu, Inggris yang menarik diri dari Uni Eropa dan kondisi mendesak yang menyeru untuk kembali menengok isu–isu perbatasan antarnegara, konsep nasionalisme, batas-batas yang “melapuk” karena teknologi-informasi, sejarah masa silam, dll.

Dari tema dua tahun lalu, Budi kemudian menengok ulang ke wilayah perbatasan Indonesia dengan negara lain, yang ia katakan sebagai kondisi yang memprihatinkan. Ia terinspirasi lingkungan-lingkungan khusus yang ganjil tapi menantangnya, tentang tapal batas terdepan, yang semestinya sebagai desainer dan arsitek ia layak berbuat sesuatu.

Garis pemisah tegas yang berbatasan dengan negara lain, pada situsi laut atau kondisi daratan terhampar 92 titik pulau terdepan di sana. Sekitar 7 atau 8 wilayah langsung bersinggungan dengan negara tetangga.

Dari Venesia, kurator utama Biennial Arsitektur tahun ini, Yvonne Farrell & Shelly McNamara, yang menyodorkan tema "Ruang Untuk Semua” dengan juluk Free Space pada para partisipan arsitek dari seluruh dunia.

Kemudian oleh Budi ditafsirkan sebagai upaya membaca, meneliti serta memproyeksikan kebebasan-kebebasan yang layak dilakukan, meskipun dalam keterbatasan-keterbatasan.

“Di lokasi-lokasi terpencil itu, ada banyak arsitektur tradisional, namun selama 73 tahun kemerdekaan Indonesia, kita kurang banyak berbuat. Terutama memperhatikan bangunan-bangunan publiknya” ujar Budi.

Ia mengingatkan kita bahwa pada abad ke-17, bangsa Belanda, Spanyol, dan Inggris mengirim antropolog dan arsitek terbaiknya ke daerah-daerah terpencil di Indonesia.

Selanjutnya, mereka bangsa-bangsa Eropa itu, mulai membangun arsitektural baru, atau tipologi bangunan yang sesuai dengan karakter khas mereka.

Misalnya, di Kepulauan Banda Neira, ada benteng, rumah pejabat dan pedagang pun gedung-gedung pemerintah yang semuanya dirancang dengan bagus oleh para arsitek ulung itu di zamannya.

Usai era kemerdekaan, daerah-daerah ini dibiarkan mengurus dirinya sendiri, membangun tanpa memahami aspek historisitas dan kultur lokal dalam perspektif ilmu arsitektur terkini.

Sementara itu, arsitek-arsitek setempat tak mampu menciptakan transformasi, mewariskan pengetahuan-pengetahuan yang memberi ruang-ruang terwarisi dari daya hidup azali mereka sendiri melihat masa depannya dengan belajar pada masa lampau.

Baca juga: Tahun yang Semarak Sayembara Seni Rupa

“Interpretasi ‘Ruang Bebas’ sebagai kebebasan yang terbatas, tentu saja terkait dengan masalah tradisi, kapasitas sumber daya manusia, serta material lokal. Selain itu muatan utama pameran arsitektur di Venesia semestinya mencakup pengalaman ruang, pengalaman material, serta pengalaman artikulatif keseharian,” kata Budi.

Budi berargumentasi, bahwa pandangan yang sering muncul adalah ruang bebas sering memicu kontradiksi. Melahirkan dikotomi tentang yang bebas, terbuka dan inovatif di era siber, namun terbelenggu artefak dan warisan masa lalu.

Dari sana, menurut Budi, ada tantangan menyajikan simbol keberadaan batas dan ketidakhadirannya sekaligus menjadi bukan sebagai masalah yang bertentangan. Masa lalu tidak bisa menjadi musuh yang membelenggu, sementara masa depan bukan semata impian yang sama sekali bebas.

Budi memberi kita pengertian ruang bebas idealnya dipahami sebagai “kebebasan terbatas”; yang layak hadir dalam kontradiksi tegangan-tegangan yang terdikotomi itu. Ia menawarkan pada 11 arsitek-arsitek partisipan tersebut dengan pemikiran bebas menembus keterbatasan-keterbatasan persepsi.

Dalam konklusinya, Budi menyampaikan bahwa masa silam harus disikapi sebagai inspirasi masa depan. Tawaran pada 11 arsitek itu adalah upaya menjaga keteraturan dalam ketidakteraturan.

Ihwal yang disebut Budi, bahwa tradisi adalah jiwa dalam modernitas, menjadikannya lahan referensi dengan menyambut keterbukaan, sembari menjadi entitas dalam dirinya sendiri (batas yang tak terbatas).

Halaman berikutnya: Rancangan para partisipan


Page:
Close Ads X