H-10 Lebaran, Perbaikan Jalan Tol Cipali Dihentikan

Kompas.com - 30/05/2018, 22:46 WIB
Kepadatan arus kendaraan di Tol Cikopo - Palimanan (Cipali), Sabtu (24/6/2017), mulai berkurang. Akan tetapi, jumlah kendaraan yang melintas mencapai lebih dari tiga kali lipat volume normal.Dok PT Lintas Marga Sedaya (LMS) Kepadatan arus kendaraan di Tol Cikopo - Palimanan (Cipali), Sabtu (24/6/2017), mulai berkurang. Akan tetapi, jumlah kendaraan yang melintas mencapai lebih dari tiga kali lipat volume normal.

JAKARTA, KOMPAS.com - Sejumlah perbaikan saat ini tengah dilakukan di sejumlah titik Jalan Tol Cikopo-Palimanan atau Cipali.

Pekerjaan di tol yang memiliki panjang 116,75 kilometer itu dipastikan akan berakhir pada H-10 lebaran atau pada 5 Juni mendatang.

Berdasarkan catatan Kompas.com, pekerjaan perbaikan atau preservasi itu terpantau di KM 117.400-600 arah Palimanan dan KM 160.700-161.400 arah Jakarta.

Baca juga: H-2 Lebaran Diprediksi Jadi Puncak Arus Mudik di Tol Cipali

"Memang ada beberapa lokasi yang sifatnya soft soil, tanah lunak, itu yang harus diperbaiki hingga di basic supaya tidak mengalami kerusakan berulang," kata General Manager Operasional PT Lintas Marga Sedaya (LMS) Suyitno menjawab pertanyaan Kompas.com di Jakarta, Rabu (30/5/2018).

Menurut dia, perbaikan jalan yang rusak tidak bisa hanya dilakukan di permukaan saja. Jalan tersebut harus dikeruk hingga kedalaman tertentu untuk kemudian diperbaiki dengan metode Cement Treated Recycling Base (CTRB).

"Intinya, pekerjaannya menggunakan material lama dicampur dnegan semen, untuk kemudian dilapisi sehingga menjadi padat," terang Suyitno.

Rusaknya sejumlah titik jalan, menurut dia, disebabkan beban yang harus diterima jalan dari kendaraan yang memiliki gandar tiga ke atas.

Di samping kondisi tanah yang lunak, kendaraan dengan gandar tiga ke atas seperti truk ekspedisi memiliki kebiasaan membawa muatan melebihi kapasitas.

Pada hari biasa, jumlah kendaraan yang melintasi jalan tol tersebut mencapai 30.000 unit. Sementara, pada akhir pekan, jumlahnya meningkat hingga mencapai 45.000 unit.

"Dari jumlah tersebut, 15-20 persen di antaranya adalah truk. Meski sedikit, daya rusaknya besar," ungkap Suyitno.

Suyitno mengaku telah bekerja sama dengan aparat kepolisian dan dinas perhubungan untuk menindak pengemudi truk nakal yang membawa muatan lebih.

Namun, meski telah dilakukan secara berkala, hal itu tak juga membuat para pengemudi truk jera untuk mengulangi kesalahan.

KOMPAS.com/AKBAR BHAYU TAMTOMO Infografik Top up E-Toll

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X