Jakarta Rancang "Master Plan" Pelabuhan dan Perkeretaapian

Kompas.com - 13/04/2018, 22:16 WIB
Suasana di Stasiun Kebayoran, Jakarta Selatan, setelah direnovasi, Kamis (26/5/2016). Tiga stasiun kereta komuter di wilayah Jabodetabek, yaitu Stasiun Kebayoran, Stasiun Parung Panjang, dan Stasiun Maja, direnovasi menjadi lebih modern untuk mengakomodasi jumlah penumpang yang semakin banyak. KOMPAS.com / ANDREAS LUKAS ALTOBELISuasana di Stasiun Kebayoran, Jakarta Selatan, setelah direnovasi, Kamis (26/5/2016). Tiga stasiun kereta komuter di wilayah Jabodetabek, yaitu Stasiun Kebayoran, Stasiun Parung Panjang, dan Stasiun Maja, direnovasi menjadi lebih modern untuk mengakomodasi jumlah penumpang yang semakin banyak.

JAKARTA, KOMPAS.com - Kepala Dinas Perhubungan dan Transportasi (Dishubtrans) DKI Jakarta Andri Yansyah mengaku belum memiliki master plan atau rencana induk meliputi moda transportasi berbasis rel atau transportasi laut.

Namun begitu, saat ini Pemprov DKI berencana memulai rancangan induk kedua transportasi tersebut dan ditargetkan rampung tahun 2018.

Baca juga : Demi Integrasi, Pemprov DKI Hapus 117 Trayek Angkot dan Bus

"Kami mau buat rencana induk pelabuhan. Nanti kami akan panggil ahli untuk membuatnya," ujar Andri saat Urban Transport Discussion bertema "Mimpi Integrasi Angkutan Umum di Jakarta", Kamis (12/4/2018) malam.

Ia mengatakan, saat proses perancangan ini, Pemprov juga melibatkan Kementerian Perhubungan dan pihak-pihak lain terkait.

Desain induk ini dibuat untuk memudahkan aktivitas di pelabuhan baik untuk mobilitas barang, maupun penumpang. Terlebih lagi, pelabuhan harus mudah diakses.

Saat dieksekusi, Andri berharap, hasil pembangunan tidak berbeda dari desain yang sudah dirancang agar tidak terbentur konflik kepentingan.

Sementara itu, untuk transportasi berbasis rel, Andri melihat masih ada kekurangan dalam pengoperasian kereta komuter saat ini.

Ojek Online mangkal di halte dan bahu jalan di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan.stanly Ojek Online mangkal di halte dan bahu jalan di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan.
"Kami ingin genjot transportasi ini karena begitu kami lihat, Jakarta tidak punya master plan atau rencana induk," sebut Andri.

Menurut dia, seharusnya kereta komuter terintegrasi dengan transportasi berbasis jalan baik yang besar, sedang, maupun kecil.

Baca juga : Baru Dua Operator Bus Kecil yang Bergabung dengan OK Otrip

Andri menilai, jaringan kereta komuter baru benar-benar berhasil jika sudah terintegrasi dengan angkutan sekitarnya.

Pasalnya, selama ini masyarakat cenderung sulit untuk melakukan perjalanan lanjutan setelah turun kereta.

Hal tersebut mengakibatkan angkutan berbasis aplikasi daring menumpuk tidak teratur dan kembali menyebabkan kemacetan, seperti yang terjadi di Stasiun Palmerah.

"Saya bilang PT Kereta Api Indonesia (Persero) top tapi buat dirinya sendiri. Begitu (penumpang) keluar stasiun berantakan dan enggak ada angkutan yang nangkep," keluh Andri.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X