Kompas.com - 22/03/2018, 14:00 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Pemerintah berencana memperpanjang konsesi pengoperasian jalan tol oleh badan usaha jalan tol (BUJT). Langkah itu kini tengah dikaji, sebagai salah satu cara guna menekan tingginya tarif tol.

Menurut Direktur SDM dan Sistem PT Waskita Karya (Persero) Tbk Agus Sugiono, diperpanjang atau tidak konsesi jalan tol merupakan sebuah pilihan.

Dalam arti, bila konsesi itu pendek maka penguasaan jalan tol oleh BUJT dapat segera berakhir, lantaran nantinya akan dikembalikan kepada pemerintah.

“Variabel itu pilihan, enggak masalah bagi pemilik tol,” kata Agus saat berbincang dengan Kompas.com di Kompleks Parlemen, Rabu (21/3/2018).

Namun, panjang pendeknya konsesi juga berpengaruh terhadap tarif. Ia menuturkan, bila konsesi semakin panjang, maka tarif yang dibebankan kepada pengguna jalan tol akan semakin murah.

Demikian pula sebaliknya. Bila konsesi pendek, maka tarif yang dibebankan akan lebih mahal. Besaran tarif tersebut dihitung berdasarkan tingkat lalu lintas harian, panjang pendek konsesi, dan investasi yang dibenamkan.

“Sebenarnya, bagi investor inginnya cepet balik, artinya (konsesi) lebih pendek. Tetapi, kalau masyarakat enggak bisa beli gimana? Harus seimbang,” tambah Agus.

Sebelumnya, saat rapat kerja dengan Komisi V DPR, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono memunculkan rencana perpanjangan konsesi jalan tol.

Usulan tersebut berasal dari Presiden Joko Widodo yang mendengar keluhan masyarakat atas tingginya tarif yang berlaku saat ini.

“Kami sudah diperintah Presiden. Presiden sudah mendengar keluhan itu. BPJT (Badan Pengatur Jalan Tol) dan Jasa Marga sedang melihat bagaimana caranya untuk bisa menurunkan harga,” kata Basuki, kemarin.

Sejak delapan tahun terakhir, tarif tol yang berlaku berkisar antara Rp 900 – Rp 1.300 per kilometer. Besaran tarif itu naik cukup signifikan bila dibandingkan era sebelum krisis moneter hingga 2010. Meski ada kenaikan tarif, namun besarannya berkisar antara Rp 600 – Rp 700 per kilometer.

Inflasi dan lemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS, ditengarai menjadi salah satu faktor pendorong tingginya kenaikan tarif yang dibebankan kepada masyarakat.

Dengan perpanjangan konsesi ini, pemerintah berharap agar tarif tol dapat di bawah Rp 1.000 per kilometer.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.