Kompas.com - 05/03/2018, 10:56 WIB
Ilustrasi air minum langsung dari keran ThinkstockIlustrasi air minum langsung dari keran

JAKARTA, KOMPAS.com - Menjelang Hari Peringatan Air Dunia yang jatuh pada 22 Maret mendatang, krisis air bersih masih mengancam sejumlah kota di dunia. Termasuk, ibu kota Indonesia, DKI Jakarta.

Meskipun hampir 70 persen permukaan bumi ditutup air, nyatanya persediaan air minum tidaklah melimpah seperti yang dibayangkan. Sejumlah ilmuwan dan ahli air di dunia pun telah memperingatkan hal ini sejak beberapa waktu lalu.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Hanya 3 persen saja yang tergolong air segar," demikian tulis Kementerian PUPR di dalam akun Instagram mereka, yang mengutip laporan BBC, Senin (5/3/2018).

Hasil penelitian yang dilakukan pada 2014 terhadap 500 kota besar di dunia, diperkirakan satu dari empat kota di dunia sedang mengalami krisis air.

Lebih dari satu miliar orang tak memiliki akses terhadap air bersih dan miliaran lainnya mengalami kelangkaan setidaknya satu bulan dalam setahun.

"Menurut proyeksi yang didukung PBB, pada tahun 2030 nanti kebutuhan akan air tawar dunia akan 40% lebih tinggi dari ketersediaan, akibat perubahan iklim, ulah manusia dan pertumbuhan penduduk," demikian tulis mereka.

Berikut kota-kota yang terancam mengalami krisis air:

1. Sao Paolo

Kekeringan yang melanda bagian tenggara Brazil pada 2014 dan 2017 disinyalir mejadi penyebabnya. Pada puncak krisis, kota ini hanya memiliki persediaan air untuk waktu kurang dari 20 hari.

Setelah itu, penampungan air bersih di sana berubah menjadi gurun kering

Pada 2016, krisis air di Sao Paolo sempat dianggap selesai. Namun, krisis kembali terjadi pada Januari 2017, setelah cadangan air utama mereka kembali minus, yaitu 15 persen di bawah perkiraan.

2. Bangalore

Sejak tumbuh sebagai pusat tenknologi, kota ini kerepotan dalam mengelola sistem air dan limbah kota mereka.

Data menunjukkan bahwa 85 persen persediaan air danau dan situ di kota itu hanya bisa digunakan untuk irigasi dan pendinginan industri.

3. Beijing

Hampir 20 persen dari total penduduk di dunia, tinggal di China. Namun, negara ini hanya memiliki 7 persen air tawar dunia.

Selain itu, 40 persen air permukaan Beijing tercemar, sehingga tidak dapat digunakan untuk keperluan pertanian atau industri sekali pun.

Pada 2014, penduduk Beijing hanya mendapat air 145 meter kubik per orang.

4. Mesir

Sungai Nil di negara ini merupakan pemasok 97 persen kebutuhan air masyarakat. Ironisnya, sungai ini juga menjadi hilir dari limbah pertanian dan sampah rumah tangga yang tidak diolah.

PBB memperkirakan negeri itu akan mengalami kelangkaan air pada 2025.

5. Jakarta

Ada beberapa alasan yang membuat Jakarta berpotensi mengalami kelangkaan air. Misalnya, posisi Jakarta yang berada di daerah pesisir, membuat 40 persen wilayah DKI berada di bawah permukaan laut.

Kondisi ini diperparah dengan ruang terbuka hijau publik dan pribadi, sehingga air huja susah menyerap ke dalam tanah.

 

 

Bersambung

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.