70 Persen Kasus Kebakaran Gedung di Jakarta Dipicu Korsleting Listrik - Kompas.com

70 Persen Kasus Kebakaran Gedung di Jakarta Dipicu Korsleting Listrik

Kompas.com - 01/02/2018, 21:34 WIB
Petugas pemadam kebakaran memadamkan sisa api di Gedung Museum Bahari, Jalan Pasar Ikan, Penjaringan, Jakarta Utara, Selasa (16/1/2018). Kebakaran yang terjadi di Museum Bahari mengakibatkan koleksi miniatur model dan alat-alat navigasi bersejarah hangus terbakar dan sebanyak 16 unit mobil pemadam kebakaran yang berasal dari Damkar Jakarta Utara dan Jakarta Barat tiba untuk memadamkan api.KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNG Petugas pemadam kebakaran memadamkan sisa api di Gedung Museum Bahari, Jalan Pasar Ikan, Penjaringan, Jakarta Utara, Selasa (16/1/2018). Kebakaran yang terjadi di Museum Bahari mengakibatkan koleksi miniatur model dan alat-alat navigasi bersejarah hangus terbakar dan sebanyak 16 unit mobil pemadam kebakaran yang berasal dari Damkar Jakarta Utara dan Jakarta Barat tiba untuk memadamkan api.

JAKARTA, KOMPAS.com - Pertengahan Januari 2018, masyarakat dikejutkan dengan kabar terbakarnya Museum Bahari, Jakarta.

Akibat peristiwa tersebut sejumlah model miniatur perahu, alat navigasi laut, serta diorama mengenai kelautan terbakar.

Kepala UPT Museum Kebaharian Husnison Nizar menyebut, dugaan sementara terbakarnya museum itu disebabkan hubungan arus pendek atau korsleting listrik.

Dua bulan sebelumya, tepatnya 14 November 2017 sebuah ruangan di lantai dua Gedung Nusantara III DPR juga terbakar.

Dugaan sementara penyebab terbakarnya ruangan tersebut adalah korsleting pada mesin pendingin yang terdapat di dalam ruangan itu.

Head of Marketing Communications PT Schneider Indonesia Donald Situmorang mengatakan, bila dilihat dari penyebab kebakaran gedung yang terjadi di Jakarta, mayoritas memang disebabkan hubungan arus pendek.

"Data dari pemerintah menyebutkan hampir 70 persen kasus kebakaran gedung itu disebabkan korsleting listrik," kata Donald menjawab pertanyaan Kompas.com, Kamis (1/2/2018).

Meski demikian, ia enggan menanggapi ihwal standar kualitas keamanan gedung-gedung di Jakarta terhadap potensi terjadinya kasus kebakaran.

"Kami tidak bisa menanggapi apakah gedung-gedung ini aman atau tidak," kata Donald.

Data Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan DKI Jakarta yang dikutip Kompas.com dari BBC Indonesia, menunjukkan, dari 780 gedung bertingkat, hanya 558 gedung yang telah memenuhi persyaratan keamanan hingga akhir 2017. Sisanya, sebanyak 222 gedung atau 28% belum memenuhi.

"Itu kaitannya dengan pencegahan (kebakaran)," kata Kepala Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan DKI Jakarta Subejo, Selasa (16/1/2018).

Kasus rubuhnya lantai mezanin Tower 2 Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) beberapa waktu lalu, juga turut memunculkan pertanyaan soal pengawasan dan kontrol aparat terhadap keamanan gedung.

Pada 2016 lalu, sejumlah kasus kebakaran gedung terjadi di Jakarta. Mulai dari kebakaran Apartemen Parama di Jakarta Selatan, Gedung Neo Soho di Jakarta Barat, Apartemen Casa Domaine di Tanah Abang, hingga terbakarnya Swiss Bell Hotel di Kelapa Gading.

Kedepankan keamanan

Sementara itu, sebagai perusahaan yang bergerak di sektor kelistrikan yang telah 45 tahun bercokol di Indonesia, Schneider selalu mengedepankan aspek keamanan. Ada empat hal utama yang ingin ditunjukkan oleh perusahaan asal Perancis tersebut.

"Jadi energi yang mau dipasok yaitu aspek keamanan, keandalan, efisien dalam hal dukungan teknologi, serta konektivitas," kata Country President PT Schneider Indonesia Xavier Denoly.

Untuk mewujudkannya, ia menambahkan, Schneider selalu bekerja sama dengan pemerintah Indonesia, baik di tingkat pusat maupun di tingkat daerah, untuk membangun standar keamanan terbaik.

"Kami bekerja sama untuk membangun standar keamanan yang sesuai dengan regulasi di Indonesia namun bertaraf internasional," kata dia.

Seperti diketahui, Pemerintah saat ini tengah menggenjot ketercapaian program listrik 35.000 megawatt. Sejumlah pembangkit listrik pun dibangun, mulai dari tenaga batubara, minyak, gas, matahari, hingga air.

Dalam pelaksanaannya, Denoly melanjutkan, Schneider tak hanya membantu Pemerintah dalam memastikan energi listrik yang dihasilkan pembangkit listrik dapat tersalurkan kepada masyarakat dengan baik. Tetapi juga ikut memastikan energi yang tersalurkan tetap stabil.

"Schneider tidak bermain di dalam pembangkit, tetapi pada listrik yang didistribusikan. Schneider bisa bermain di mana saja," tuntasnya.


EditorHilda B Alexander

Close Ads X