Bandara Kulon Progo Didesain Tahan Gempa 8 Magnitudo dan Tsunami

Kompas.com - 26/01/2018, 17:00 WIB
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi saat meninjau Belawan International Container Terminal di Belawan, Medan, Sumatera Utara, pada Rabu (17/1/2018) KOMPAS.com/Yoga Hastyadi WidiartantoMenteri Perhubungan Budi Karya Sumadi saat meninjau Belawan International Container Terminal di Belawan, Medan, Sumatera Utara, pada Rabu (17/1/2018)
Penulis Dani Prabowo
|
EditorHilda B Alexander

JAKARTA, KOMPAS.com - Bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) di Kabupaten Kulon Progro yang ditargetkan beroperasi pada April 2019, disebut memiliki desain tahan bencana. Baik itu bencana gempa bumi hingga tsunami.

Seperti diberitakan harian Kompas, posisi landasan pacu bandara rencananya sekitar 400 meter dari pantai selatan Jawa yang memiliki sejarah kegempaan besar dan tsunami.

Berdasarkan data Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), kekuatan gempa bumi di selatan Jawa bermagnitudo 8,5 dengan tinggi tsunami 15 sentimeter.

Data lain menyebut, kekuatan gempa mencapai 8,8 Magnitudo dengan gelombang tsunami lebih tinggi.

"Kita ingin membangun, asumsinya dari BMKG dengan Angkasa Pura (AP) I menghitung secara detail. Jadi jangan takut lagi (Bandara) Kulon Progo kena tsunami. Karena kita sudah memperhitungkan dengan skala 8 Magnitudo yang belum pernah terjadi di Jawa," kata Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi di Kantor BMKG, Jumat (26/1/2018).

Pada akhir Oktober lalu, investor dan pembangun NYIA telah bertandang ke Jepang untuk menggali pengalaman negara tersebut dalam membangun bandara tahan gempa.

Dua konsultan teknik, Nikken Sekkei dan Nippon Koei, serta sejumlah pakar ditemui untuk mendapat masukan yang tepat atas desain bandara.

Menurut Budi, desain bandara yang menelan investasi sebesar Rp 6,7 triliun itu dipastikan akan memenuhi aspek mitigasi bencana.

Bila terjadi tsunami, bukanlah penghalang yang dibangun, tetapi bagaimana memastikan agar air dapat mengalir.

Usulan tersebut, berasal dari sejumlah ahli asal Jepang yang telah malang melintang dalam urusan tsunami.

"Misalnya listrik, tidak boleh di lantai 1, (tapi) di lantai 2. Lantai 1 dibiarkan kalau tsunami, air dibiarkan masuk ke dalam. Hal seperti ini yang kita siapkan lebih awal," jelas Budi.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X