Tergerus Bisnis "Online", Iklan Ritel Konvensional Terus Menyusut

Kompas.com - 28/10/2017, 19:37 WIB
Suasana Matahari Department Store di Pasaraya Manggarai, Jakarta, Selasa (19/9/2017). PT Matahari Department Store Tbk memastikan akan menutup dua gerai yang berlokasi di Pasaraya Blok M dan Pasaraya Manggarai pada akhir bulan September 2017 akibat pusat perbelanjaan tersebut sepi pengunjung. KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO KOMPAS.com / KRISTIANTO PURNOMOSuasana Matahari Department Store di Pasaraya Manggarai, Jakarta, Selasa (19/9/2017). PT Matahari Department Store Tbk memastikan akan menutup dua gerai yang berlokasi di Pasaraya Blok M dan Pasaraya Manggarai pada akhir bulan September 2017 akibat pusat perbelanjaan tersebut sepi pengunjung. KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO
Penulis Dani Prabowo
|
EditorHilda B Alexander

JAKARTA, KompasProperti - Belanja iklan department store atau gerai ritel konvensional terpaut jauh bila dibandingkan dengan belanja iklan toko daring (online). Adanya perubahan pola belanja masyarakat yang cenderung memilih belanja daring, diduga sebagai salah faktornya.

Dari hasil penelitian Sigi Kaca Pariwara berdasarkan data Adstensity, total belanja iklan dari 16 toko daring terbesar di Indonesia sejak Januari hingga September 2017 mencapai Rp 1,25 triliun.

Baca juga : Bisnis Belanja Online Sudah Ada Sejak 15 Tahun Lalu

Sementara, total belanja iklan tiga department store terbesar di Indonesia, yakni Matahari, Metro dan Ramayana, pada periode yang sama hanya Rp 40,41 miliar.

"Belanja iklan departement store ini jauh sekali bila dibandingkan online store," kata VP Operation Sigi Kaca Pariwara Ridho Marpaung dalam sebuah diskusi di Jakarta, Sabtu (28/10/2017).

Dari total belanja tersebut, Bukalapak menjadi toko ritel dengan belanja iklan terbesar yaitu Rp 244,98 miliar. Disusul Tokopedia (Rp 255,7 miliar), Shopee (Rp 177,92 miliar), Blibli (Rp 151 miliar) dan Olx (Rp 125,21 miliar).

Data belanja iklan toko daring 2017. Dari Januari - September 2017, total belanja iklan 16 toko daring mencapai Rp 1,25 triliun. Sigi Kaca Pariwara Data belanja iklan toko daring 2017. Dari Januari - September 2017, total belanja iklan 16 toko daring mencapai Rp 1,25 triliun.

Ridho memprediksi, jumlah pemain bisnis daring akan semakin meningkat pada masa depan. Terlebih, saat ini masyarakat cenderung menggunakan teknologi informasi sebagai sarana berbelanja.

Oleh karena itu, ia mendorong, agar para pengusaha ritel konvensional juga megembangkan sayapnya dengan membuka divisi daring. Matahari, sebut dia, sudah membuka Mataharimall.com.

"Siapa pemain toko online yang punya modal besar, itu yang akan mendominasi ke depan," ujarnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Tutum Rahanta menilai, wajar bila belanja iklan toko daring lebih besar dari pada department store konvensional.

Pasalnya, toko daring tidak memiliki toko fisik, sehingga perlu promosi lebih gencar untuk memperkenalkan produk mereka.

"Sementara yang dimaksud iklan brand (department store) memang sangat terbatas, untuk wilayah tertentu dan waktu tertentu," kilahnya.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X