Kompas.com - 20/10/2017, 11:40 WIB
Ilustrasi generasi milenial ThinkstockphotosIlustrasi generasi milenial
Penulis Dani Prabowo
|
EditorHilda B Alexander

JAKARTA, KompasProperti - Generasi milenial yang berusia di bawah 34 tahun, merupakan kelompok potensial yang menjadi target sasaran bagi para pengembang perumahan dan apartemen.

Hal itu disebabkan, jumlahnya yang besar yang mencapai hampir 60 persen dari total seluruh penduduk Indonesia.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Ini disebut potensial marketnya rumah. Usia segini mereka masih dalam masa pencarian rumah," kata Pengamat Ekonomi dari Unika Atma Jaya Agustinus Prasetyantoko saat diskusi Rumah.com Property Outlook 2018 di Jakarta, Kamis (19/10/2017).

Namun yang menjadi persoalan, kondisi perekonomian dalam negeri mempengaruhi pendapatan yang dimiliki generasi ini. Agustinus mengatakan, perekonomian dalam negeri sangat terpengaruh dengan kondisi perekonomian global dan harga komoditas global.

Dalam kondisi perekonomian yang kurang baik seperti saat ini, tentu akan berdampak pada kondisi perekonomian domestik. Imbasnya, meski diprediksi perekonomian Indonesia di tahun depan membaik dari tahun ini, namun kenaikan itu masih di bawah ekspektasi.

Situasi tersebut tentu akan berimbas pada pendapatan yang diterima oleh generasi ini.

"(Ada) pertumbuhan (tapi) nggak tinggi. Kenaikan pendapatan dari kelompok ini juga nggak akan tinggi. Jadi mereka ini generasi yang pendapatannya biasa-biasa aja," kata dia.

Hal lain yang menyulitkan generasi milenial memiliki rumah yakni harga properti yang terus naik dari tahun ke tahun.

 

Meski ekonomi lesu, harga rumah dan apartemen tetap menunjukkan pertumbuhan meski rendah yakni 7 persen hingga 10 persen.

Untuk apartemen sekelas rusun saja harganya sudah bertengger di angka Rp 9 juta hingga Rp 12 juta per meter persegi, atau Rp 350 jutaan per unit. 

Sementara di satu sisi, pendapatan hanya meningkat 3 sampai 5 persen. Itu pun untuk posisi tertentu dan tidak terjadi setiap tahun.

Dengan kondisi peningkatan pendapatan yang tidak signifikan, kenaikan harga properti menjadi faktor pendukung semakin sulitnya generasi milenial untuk memiliki rumah.

"Jadi pendapatan itu stagnan, harganya makin naik, makin nggak kebeli. Jadi ini problem yang mendasar, sehingga generasi milenial itu generasi yang akan lebih sulit memiliki rumah," tuntas dia.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.