Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Generasi Milenial Sulit Punya Rumah

JAKARTA, KompasProperti - Generasi milenial yang berusia di bawah 34 tahun, merupakan kelompok potensial yang menjadi target sasaran bagi para pengembang perumahan dan apartemen.

Hal itu disebabkan, jumlahnya yang besar yang mencapai hampir 60 persen dari total seluruh penduduk Indonesia.

"Ini disebut potensial marketnya rumah. Usia segini mereka masih dalam masa pencarian rumah," kata Pengamat Ekonomi dari Unika Atma Jaya Agustinus Prasetyantoko saat diskusi Rumah.com Property Outlook 2018 di Jakarta, Kamis (19/10/2017).

Namun yang menjadi persoalan, kondisi perekonomian dalam negeri mempengaruhi pendapatan yang dimiliki generasi ini. Agustinus mengatakan, perekonomian dalam negeri sangat terpengaruh dengan kondisi perekonomian global dan harga komoditas global.

Dalam kondisi perekonomian yang kurang baik seperti saat ini, tentu akan berdampak pada kondisi perekonomian domestik. Imbasnya, meski diprediksi perekonomian Indonesia di tahun depan membaik dari tahun ini, namun kenaikan itu masih di bawah ekspektasi.

Situasi tersebut tentu akan berimbas pada pendapatan yang diterima oleh generasi ini.

"(Ada) pertumbuhan (tapi) nggak tinggi. Kenaikan pendapatan dari kelompok ini juga nggak akan tinggi. Jadi mereka ini generasi yang pendapatannya biasa-biasa aja," kata dia.

Hal lain yang menyulitkan generasi milenial memiliki rumah yakni harga properti yang terus naik dari tahun ke tahun.

Meski ekonomi lesu, harga rumah dan apartemen tetap menunjukkan pertumbuhan meski rendah yakni 7 persen hingga 10 persen.

Untuk apartemen sekelas rusun saja harganya sudah bertengger di angka Rp 9 juta hingga Rp 12 juta per meter persegi, atau Rp 350 jutaan per unit. 

Sementara di satu sisi, pendapatan hanya meningkat 3 sampai 5 persen. Itu pun untuk posisi tertentu dan tidak terjadi setiap tahun.

Dengan kondisi peningkatan pendapatan yang tidak signifikan, kenaikan harga properti menjadi faktor pendukung semakin sulitnya generasi milenial untuk memiliki rumah.

"Jadi pendapatan itu stagnan, harganya makin naik, makin nggak kebeli. Jadi ini problem yang mendasar, sehingga generasi milenial itu generasi yang akan lebih sulit memiliki rumah," tuntas dia.

https://properti.kompas.com/read/2017/10/20/114025921/generasi-milenial-sulit-punya-rumah

Terkini Lainnya

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar