Berpikir Lari dari "Neraka" Jakarta...

Kompas.com - 24/08/2017, 11:16 WIB
Kawasan kumuh dan padat penduduk di pinggir Waduk Pluit, Jakarta Utara, Senin (28/7/2014). Pemerintah DKI Jakarta telah melakukan normalisasi di Waduk Pluit untuk mengembalikan fungsinya sebagai kantong air. KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO - RODERICK ADRIAN MOZESKawasan kumuh dan padat penduduk di pinggir Waduk Pluit, Jakarta Utara, Senin (28/7/2014). Pemerintah DKI Jakarta telah melakukan normalisasi di Waduk Pluit untuk mengembalikan fungsinya sebagai kantong air.
EditorLatief

Kemacetan yang demikian hebat ini tentu saja membuat mobilitas orang Jakarta sangat lamban sehingga mempengaruhi rendahnya produktifitas mereka. Sementara itu, akibat tingkat stres yang terus meningkat, warga Jakarta makin gampang kehilangan akal sehat. Orang Jakarta jadi gampang marah, bahkan mengamuk?

Kini, jutaan warga Jakarta harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk pulang-pergi dari dan ke tempat kerja. Itu pun masih harus menghadapi siksaan oleh sarana angkutan umum yang tidak nyaman dan tidak aman.

Mereka juga harus selalu waspada dengan para pencopet dan pelecehan seksual yang selalu bergentayangan pada jam-jam padat.

Plus, yang tak kalah menyakitkan adalah kesenjangan ekonomi yang kian mencolok. Seolah tak punya simpati, kaum berduit bergaya dengan mondar-mandir menggunakan mobil mewahnya yang bak raja minyak dari Timur Tengah di jalan-jalan raya.

Di sisi lain, di pusat-pusat belanja mewah mereka suka berdandan bak selebriti Hollywood dengan aksesoris menempel di tubuhnya, seolah ingin adu pamer brand Fendi, Versace, Oscar de La Renta dan sebagainya.

Selain kaum elite ini tak perduli bahwa penampilan mereka mengundang iri dan dengki banyak orang, mereka juga sebetulnya tengah "mengundang" kejahatan.

Bagi mereka yang tak perduli dosa dan penjara, kesenjangan itu kerap menjadi pemicu untuk melakukan kejahatan, termasuk penyerangan seksual. Jangan heran, banyak orang tua di Jakarta gelisah setiap kali anak-anak mereka meninggalkan rumah.

Sampai sekarang, tak ada orang berani memberi kepastian kapan situasi menakutkan itu akan reda. Catatan polisi bahkan menunjukkan angka yang menyeramkan. Di wilayah hukum Polda Metro Jaya misalnya, tahun lalu aksi kejahatan terjadi setiap 12 menit 18 detik.

Secara keseluruhan, terjadi 43.149 kasus kejahatan di sepanjang 2016. Dari fakta ini, perampokan melesat 12 persen menjadi 719 kasus, sementara perkosaan naik 6 persen menjadi 71 kasus.

Boleh jadi, kenyataan itu bisa saja jauh lebih buruk. Ini tergambar dari hasil survei Lentera Sintas Indonesia yang dirilis Juli 2017 lalu. Jumlah kasus perkosaan sesungguhnya, menurut survei ini, jauh lebih tinggi.

Buktinya, 93 persen reponden survei tidak mau melaporkan ke polisi perkosaan yang dialami. Alasan utamanya adalah takut dicemooh, bahkan dikucilkan keluarga, teman, bahkan masyarakat.

Sekali lagi, apakah Jakarta akan terus begini? Apakah Anda masih nyaman menjadi bagian Jakarta, yang sedang berkembang mengkhawatirkan? Adakah keinginan mencari kota lain yang lebih bersih, aman, dan nyaman? Bukan kota yang bak "neraka"...

Baca:  Kota Tak Ramah Pejalan Kaki Itu Bernama Jakarta...

Halaman:


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X