Berpikir Lari dari "Neraka" Jakarta...

Kompas.com - 24/08/2017, 11:16 WIB
Kawasan kumuh dan padat penduduk di pinggir Waduk Pluit, Jakarta Utara, Senin (28/7/2014). Pemerintah DKI Jakarta telah melakukan normalisasi di Waduk Pluit untuk mengembalikan fungsinya sebagai kantong air. KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO - RODERICK ADRIAN MOZESKawasan kumuh dan padat penduduk di pinggir Waduk Pluit, Jakarta Utara, Senin (28/7/2014). Pemerintah DKI Jakarta telah melakukan normalisasi di Waduk Pluit untuk mengembalikan fungsinya sebagai kantong air.
EditorLatief

Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) menyebutkan 6 persen masyarakat Indonesia yang berumur lebih dari 15 tahun mengalami gangguan mental emosional. Mereka yang rentan mengalami gangguan mental emosional adalah orangtua, perempuan, berpendidikan dan berpenghasilan rendah, dan tinggal di kota.

Kementerian Sosial kesulitan memetakan penyandang disabilitas mental dan gangguan psikotik.

"Masih banyak anggota keluarga yang menyembunyikan keadaan tersebut,” kata Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa.

Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) Danardi Sosrosumihardjo mengatakan, stres bisa menjadi cemas atau depresi sangat bergantung pada daya tahan seseorang menghadapi tekanan dan besarnya tekanan yang terjadi. Daya tahan itu dipengaruhi faktor genetika, pola asuh, kualitas gizi, kondisi lingkungan, hingga sistem pendidikan.

Dengan semua kenyataan itu, apakah Jakarta sesungguhnya makin layak untuk dihuni? Apalagi, kota ini terus menghadapi masalah serius yang terus menggunung.

Bicara fasilitas umum (Fasum) dan fasilitas sosial (Fasos) untuk hiburan masyarakat yang terus berkurang. Kemiskinan membuat ketegangan sosial yang makin sulit diredakan akibat kelangkaan ruang hidup yang sehat untuk bersoalisasi, berolahraga, belajar, berkesenian dan berbagai aktifitas kreatif lainnya. Akibatnya banyak ketegangan berubah menjadi kekerasan, baik yang bersifat pribadi maupun massal.

Studi Japan International Cooperation Agency (JICA) pada 2000 menyebutkan bahwa Jakarta terancam menjadi kota gagal akibat kemacetan sangat parah pada 2014. Meski tak sepenuhnya terbukti, namun JICA tak mengada-ada.

Buktinya, pengamatan oleh produsen GPS, TomTom, pada jam jam padat menemukan bahwa Jakarta tahun ini telah menjadi kota dengan kemacetan terparah keempat di dunia setelah Bangkok, Mexico City, dan Bucharest.

Kemacetan yang demikian hebat ini tentu saja membuat mobilitas orang Jakarta sangat lamban sehingga mempengaruhi rendahnya produktifitas mereka. Sementara itu, akibat tingkat stres yang terus meningkat, warga Jakarta makin gampang kehilangan akal sehat. Orang Jakarta jadi gampang marah, bahkan mengamuk?

Kini, jutaan warga Jakarta harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk pulang-pergi dari dan ke tempat kerja. Itu pun masih harus menghadapi siksaan oleh sarana angkutan umum yang tidak nyaman dan tidak aman.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X