Bernardus Djonoputro
Ketua Majelis Kode Etik, Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia (IAP)

Bernardus adalah praktisi pembiayaan infrastruktur dan perencanaan kota. Lulusan ITB jurusan Perencanaan Kota dan Wilayah, dan saat ini menjabat Advisor Senior disalah satu firma konsultan terbesar di dunia. Juga duduk sebagai anggota Advisory Board di Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan, Institut Teknologi Bandung ( SAPPK ITB).

Selain itu juga aktif sebagai Vice President EAROPH (Eastern Region Organization for Planning and Human Settlement) lembaga afiliasi PBB bidang perencanaan dan pemukiman, dan Fellow di Salzburg Global, lembaga think-tank globalisasi berbasis di Salzburg Austria. Bernardus adalah Penasehat Bidang Perdagangan di Kedubes New Zealand Trade & Enterprise.

Demam TOD, Komersialisasi Berlebihan, dan Pilihan Peremajaan Kota

Kompas.com - 25/04/2017, 13:00 WIB
Suasana blusukan Presiden Joko Widodo di proyek MRT, tepatnya di 300 meter di bawah Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, Kamis (23/2/2019). Biro Pers, Media dan Informasi Sekretariat PresidenSuasana blusukan Presiden Joko Widodo di proyek MRT, tepatnya di 300 meter di bawah Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, Kamis (23/2/2019).
EditorHilda B Alexander

Perubahan ruang kota dan peradaban selalu hadir dalam tatanan perkotaan. Pertumbuhan kota yang berawal dari ruang-ruang persimpangan sudah ada sejak awal peradaban masehi.

Penjajahan Romawi atas Israel, dan era Byzantium sampai ke kemenangan Ottoman atas Konstantinopel, dari Eropa hingga Afrika Utara.

Kota tumbuh dari desa transit, di mana lalu lintas perdagangan dan masyarakat bertemu. Selain itu, percepatan aneka budaya dan peradaban mewarnai pertumbuhan kota-kota.

Tengok Bethlehem, tempat kitab-kitab mengabadikan kisah klasik tentang migrasi warga yang menjadi catatan tertua, dan bagaimana kota bertumbuh.

Di sana, saat ini kita bisa melihat sisa berbagai peradaban. Di beberapa titik ekskavasi sejarah Bethlehem kita bisa melihat tumpukan satu kebudayaan di atas budaya lainnya, dan jalan modern adalah bukti ribuan tahun perkembangan ruang hidup manusia yang terus berubah.

Kota-kota pun mengalami berbagai perubahan seiring perubahan sosial, ekonomi dan politik. Era mega city Roma baru yang dibangun kaisar Constantine sejak Byzantine, pun harus berubah pada zaman Ottoman.

Pertumbuhan kota-kota baru seperti Adrianople (sekarang Edirne), Nicodemia (sekarang Izmit) menjadi tonggak dinamika pertumbuhan kota dunia.

Kota-kota terus mengalami trajektori percepatan dalam perubahan, baik skala maupun desainnya. Namun ada juga kota kecil, seperti Kashgar di Tajikistan, yang walaupun menjadi transit Jalur Sutera, tetap merupakan kota kecil sub-sistem dari kota besar Tashkent.

Evolusi terjadi dari kota seperti Jerusalem tua yang kecil serba dekat karena tidak ada sarana transportasi di mana semua warga jalan kaki, ke perubahan kota skala mega zaman Mesir dan Roma. Sprawl menjadikan kota modern kita raksasa karena jalan tol dan rel kereta api.

Kini, kita memasuki zaman perkembangan desain kota modern dunia yang kembali menuntut kota yang compact dengan people scale (skala manusiawi). Tengok Kopenhagen, Melbourne, dan Vancouver, yang semakin nyaman bagi warganya.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.