Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Indonesia Kalahkan Pasar Ritel Singapura

Kompas.com, 8 Juni 2016, 12:49 WIB
Ridwan Aji Pitoko

Penulis

KOMPAS.com - Indonesia mengalahkan Singapura dan berada di posisi kelima dunia dalam Global Retail Development Index (GRDI) 2016 versi AT Kearney.

Secara keseluruhan, Asia menjadi pemenang regional. Empat dari lima negara teratas datang dari Asia dengan rincian China (1), India (2), Malaysia (3), dan Indonesia (5).

Keberadaan empat negara di posisi teratas itu disebabkan kombinasi antara populasi yang besar dengan tingginya pertumbuhan ritel.

Resmi diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang menciptakan pasar sebesar 2,6 triliun dollar Amerika Serikat (AS) dengan populasi mencapai lebih dari 622 juta jiwa merupakan batu loncatan penting dalam pertumbuhan pasar ritel Asia meskipun implementasinya memerlukan proses yang panjang.

Selain itu, adanya Kemitraan Trans Pasifik atau Trans-Pacific Partnership (TPP) diyakini mampu meningkatkan PDB beberapa negara di Asia termasuk Vietnam (11) dan Malaysia.

Sektor e-commerce yang terus tumbuh di Asia juga menjadi faktor tingginya posisi negara-negara di Asia dalam GDRI 2016. Pertumbuhannya meningkat 35,7 persen pada 2015 hingga mencapai 878 miliar dollar AS.

Asia tak hanya menjadi pasar terbesar e-commerce, tetapi juga memegang saham mayoritas dalam penjualan online global dengan 52,5 persen.

Yang mencengangkan, Singapura tidak berhasil masuk ke dalam 30 besar negara dengan pasar ritel paling bertumbuh di dunia.

Padahal, PDB Singapura didominasi oleh pasar ritelnya yang menjadi destinasi favorit banyak orang.

Orchard Road yang merupakan sabuk belanja Singapura kini tak lagi menjadi destinasi belanja turis-turis dari China, Malaysia, Vietnam, dan bahkan Indonesia.

Baca: Sepi Pengunjung, Orchard Road Bukan Lagi Surga Belanja

Selain karena melemahnya ekonomi, sepinya pusat perbelanjaan, dan komersial di Singapura juga disebabkan minimnya minat belanja turis-turis yang datang ke negara kota ini.

Tujuan investasi

Indonesia dengan Jakarta-nya muncul sebagai tujuan investasi banyak pengusaha global.

Raksasa-raksasa properti macam Hongkong Land, AEON Group, Toyota Group, dan Crown Group telah lama memosisikan Indonesia dalam radar investasi mereka.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Dengan Membership bulanan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Dengan Membership tahunan, kamu ikut mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com secara berkelanjutan dan menikmati benefit member.
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Mendukung tim redaksi KOMPAS.com
Tanpa iklan dan artikel utuh
Akses konten Orisinal tanpa batas
Akses Podcast eksklusif
Newsletter penuh insight dan game Croz/Word tanpa batas
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Diperbaharui : 1 Juli 2026
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Pesan apresiasi berhasil
Pesan apresiasi darimu sudah dipublikasikan di halaman komentar
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau