Bisnis SOHO Masih Jalan di Tempat

Kompas.com - 03/03/2016, 23:06 WIB
thinkstock Ilustrasi

JAKARTA, KOMPAS.com - Kendati potensi pebisnis pemula atau start up company di Indonesia terus menunjukkan peningkatan signifikan, namun tidak diimbangi dengan penyediaan fasilitas ruang penunjang.

Ruang penunjang itu adalah small office home office ( SOHO) atau konsep pengembangan properti hunian yang menyatu sekaligus berfungsi sebagai tempat kerja (kantor).

Menurut riset Leads Property Indonesia, pasokan SOHO hingga kuartal IV-2015 hanya 1.840 unit yang berasal dari enam pengembangan. Padahal, konsep properti SOHO sudah hadir di Indonesia sejak tahun 1997 saat PT Duta Anggada Realty Tbk melansir Citiloft.

Mereka adalah Sudirman Cityloft sebanyak  466 unit, Menteng Square 36 unit, Podomoro City 615 unit, Central 88 Kemayoran 364 unit, SOHO Pancoran 346 unit dan Naya Kemang 13 unit. (Baca: Tuntaskan Proyek SOHO, Agung Podomoro Bidik "Start-up")  

CEO Leads Property Indonesia, Hendra Hartono menjelaskan, pertumbuhan SOHO terbilang lambat ketimbang jenis properti lainnya. Indikasinya adalah pasokan yang terbatas karena segmen pasarnya terlalu sempit atau niche market.

"Pasar spesifik yang mengakomodasi SOHO biasanya perusahaan kecil, pebisnis pemula, atau individu yang bergerak di bidang jasa seperti lawyer, arsitek atau lainnya. Mereka beroperasi sampai larut malam sehingga pemilik usaha bisa tidur dan tinggal di unit tersebut," papar Hendra kepada Kompas.com, Kamis (3/3/2016).

Selain pasokan terbatas, perkembangan harga SOHO pun lebih moderat dibanding harga apartemen dan perkantoran strata.

Dalam masa penjualan, kenaikan harganya paling banter berkisar antara 5 persen hingga 8 persen per tahun secara umum.

Kecuali SOHO Podomoro City yang mencapai level 10 persen per tahun selama masa penjualan karena konsepnya yang terintegrasi dengan superblok Podomoro City sehingga banyak sekali peminatnya.

Saat ini secara umum, harga SOHO yang ditawarkan di pasar primer adalah Rp 17 juta hingga Rp 28 juta per meter persegi.

Sedangkan di pasar sekunder mencapai posisi Rp 30 juta-Rp 34 juta per meter persegi. Patokan harga ini hanya bisa dicapai oleh Sudirman Cityloft dan SOHO Podomoro City.

Namun, seiring dengan pertumbuhan industri kecil dan pebisnis pemula, prospek SOHO ke depannya diyakini bakal lebih cerah.

Mengutip dailysocial.net pada tahun 2015, terdapat 1.500 start up lokal dengan nilai bisnis mencapai 13 miliar dollar AS atau sekitar Rp 175 triliun. Pemerintah menargetkan potensi itu meningkat menjadi 130 miliar dollar AS (Rp 1.750 triliun) pada 2020.

 

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
EditorHilda B Alexander

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X