Kompas.com - 04/09/2015, 18:00 WIB
|
EditorHilda B Alexander
JAKARTA, KOMPAS.com - Pasar perkantoran grade A, dan premium di central business district (CBD) Jakarta bakal menghadapi masa-masa suram, dan ketidakpastian dalam satu hingga dua tahun mendatang. Terlebih bila Rupiah terus melemah, pasar akan semakin memperpanjang aksi tunggu (wait and see)-nya.

Direktur Central Cipta Murdaya Holding (CCM), Karuna Murdaya, mengatakan, sektor perkantoran sangat bergantung pada faktor eksternal yakni kuatnya nilai tukar dollar, dan pertumbuhan ekonomi AS. 

"Tergantung AS. Kalau dollar terus naik, Rupiah melemah, daya beli turun. Siapa yang mau investasi di Indonesia. Lagipula pembangunan infrastruktur juga lambat, transportasi jalan di tempat, Jakarta macet. Banyak hal yang bikin pasar perkantoran tidak pasti," papar Karuna kepada Kompas.com, usai penganugerahan Indonesia Property Awards 2015, di InterContinental Hotel, Jakarta, Kamis malam (3/9/2015).

Karuna melanjutkan, sentimen ekonomi saat ini sedang negatif untuk sub-sektor perkantoran grade A dan premium. Pelemahan Rupiah telah membuat ongkos konstruksi melambung sebagai akibat harga komponen impor macam lift, genset, cladding material, building automation system (BAS), dan lain-lainnya juga melonjak.

Kondisi makin diperparah, kata Karuna, sejak Bank Indonesia (BI) mengeluarkan Surat Edaran BI (SEBI) No.17/11/DKSP tanggal 1 Juni 2015 tentang kewajiban menggunakan Rupiah untuk setiap transaksi di dalam negeri. Kewajiban tersebut juga tercantum dalam Peraturan Bank Indonesia (PBI) No.17/3/PBI/2015, tentang kewajiban penggunaan rupiah di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

"Itu bikin harga material dari supplier makin tinggi. Ongkos konstruksi jadi membengkak. Saat ini saja kami mengalokasikan 230 juta dollar AS untuk bangun World Trade Center (WTC) 3 Sudirman. Tapi itu angka bakal berubah lagi karena pasar masih tidak pasti," ungkap Karuna.

shutterstock Ilustrasi nilai tukar rupiah terhadap dollar AS.
Kendati tak pasti, namun Karuna tetap berharap pasar segera pulih dan gedung perkantorannya terserap pasar. Menurut dia, untuk membangun gedung kantor sebesar WTC 3 Sudirman yang berada di kompleks WTC Sudirman, butuh waktu sekitar enam tahun kajian bisnis. Termasuk kondisi pasokan dan kebutuhannya. 

"Sekarang memang pasar sedang lesu, pasokan lebih banyak dan permintaan nggak ada. Itu kami pertimbangkan juga. Tapi seharusnya pemerintah melakukan sesuatu yang bisa menggenjot bisnis lebih kondusif, seperti pembangunan infrastruktur yang dipercepat, dan pembenahan transportasi," tandas Karuna.

Menurut hasil riset Colliers International Indonesia, hingga 2018 mendatang sekitar 95 persen perkantoran di CBD Jakarta sedang dalam tahap konstruksi. Tak main-main jika kelak proyek-proyek tersebut rampung, akan menambah 2 juta meter persegi ruang kantor baru.

Sementara di sisi lain, tingkat hunian perkantoran justru terus menurun sejak 2013. Tingkat hunian perkantoran pada 2013 masih bertengger di angka 96,5 persen. Sejak saat itu terus melorot menjadi 93,7 persen pada kuartal II-2015.


Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.