Kompas.com - 04/09/2015, 16:00 WIB
|
EditorHilda B Alexander
JAKARTA, KOMPAS.com - CEO Ciputra Group, Candra Ciputra, punya harapan besar pasar properti Indonesia akan kembali pulih seperti masa-masa bulan madu pada medio 2012-2013.

Harapan tersebut, kata Candra, hanya bisa terwujud jika pemerintah mau melakukan empat hal mendasar. Pertama adalah promosi berkesinambungan, dan menjalin koneksi dengan perusahaan-perusahaan atau lembaga asing berpengaruh terkait potensi investasi di Indonesia.

"Merekalah yang akan memberikan rating bagi kondisi investasi di negara ini. Penilaian mereka akan sangat memengaruhi keputusan perusahaan dan lembaga investasi asing tersebut apakah akan masuk Indonesia atau tidak," papar Candra kepada Kompas.com, usai penganugerahan Indonesia Property Awards 2015 di InterContinental Hotel, Jakarta, Kamis malam (3/9/2015). 

Candra melanjutkan, perusahaan kategori 500 Fortune, dan juga lembaga pemeringkat macam Standard & Poor, Fitch, dan Moody punya "kekuasaan" untuk membentuk kepercayaan pasar global terhadap Indonesia.

Menurut Candra, kepercayaan pasar sangat bergantung pada rating yang mereka buat. Karena itulah, pemerintah harus mengemas promosi Indonesia sebaik, dan semaksimal mungkin.

Hilda B A/KOMPAS.com CEO Ciputra Group, Candra Ciputra (tengah).
Selain promosi berkesinambungan, tambah Candra, kunci strategis kedua adalah perbaikan sistem, skema, dan regulasi terkait perizinan, perpajakan, dan terutama land clearance atau pembukaan lahan.

"Regulasi yang jelas, dan pasti terkait land clearance sangat dibutuhkan untuk pengembangan infrastruktur, pembangkit energi, properti, dan fasilitas publik lainnya," imbuh Candra.

Kunci strategis ketiga adalah segera disahkan peraturan mengenai kepemilikan warga negara asing (WNA) atau foreign ownership. Kepemilikan WNA atas properti ini merupakan karpet merah bagi lancarnya investasi asing di sektor properti. 

www.shutterstock.com Ilustrasi.
Candra mencontohkan, saat industri atau pabrik baru dibuka, butuh dua sampai tiga tahun untuk beroperasi. Dalam interval waktu selama itu, tentu akan ada banyak ekspatriat yang terlibat dalam proses persiapan produksi tersebut. Merekalah yang dinilai Candra sebagai pasar potensial bagi bertambahnya devisa negara melalui pembelian properti. 

Terakhir adalah pembentukan Real Estate Investment Trusts (REITs) atau Dana Investasi Real Estat (DIRE). Ini merupakan salah satu instrumen investasi baru yang secara hukum di Indonesia akan berbentuk Kontrak Investasi Kolektif (KIK).

REITs diartikan sebagai kumpulan uang pemodal yang oleh perusahaan investasi akan dibenamkan ke dalam bentuk aset properti baik secara langsung seperti membeli gedung maupun tidak langsung dengan membeli saham/obligasi perusahaan properti.

"Potensi aset REITs di Indonesia ini luar biasa besar yakni sekitar 5 miliar dollar AS atau setara Rp 71 triliun," pungkas Candra.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.