Kompas.com - 08/08/2015, 12:00 WIB
|
EditorHilda B Alexander
JAKARTA, KOMPAS.com - Meningkatnya ongkos konstruksi ternyata tidak hanya disebabkan mahalnya komponen mekanis dan elektris atau mechanical and electrical (M&E) akibat depresiasi Rupiah menjadi Rp 13.512 per 1 Dollar AS, Sabtu (8/8/2015), juga upah tukang bangunan yang terus melonjak.

Upah pekerja konstruksi yang jasanya dimanfaatkan untuk membangun gedung-gedung komersial di wilayah DKI Jakarta macam pusat belanja, hotel, apartemen, dan perkantoran, sudah menembus level Rp 220.000 per hari. Angka sebesar ini dikenakan untuk tukang bangunan dengan keahlian minimum.

Sementara upah untuk tukang bangunan dengan keahlian madya atau di atasnya bisa mencapai Rp 300.000 per hari. Bahkan, pekerjaan yang membutuhkan pemahaman teknologi, ketelitian, dan presisi, macam instalasi komponen M&E, bisa lebih mahal lagi.

Hal inilah yang membuat beberapa pengembang, termasuk PT Triyasa Propertindo, pengembang Gran Rubina Business Park, mengkaji ulang (review) rencana bisnisnya pada semester kedua 2015, dan tahun 2016 mendatang.

Direktur PT Triyasa Propertindo, Budi Lesmana, mengungkapkan hal tersebut kepada Kompas.com, Jumat (7/8/2015).

Menurut Budi, tingginya upah tukang bangunan tersebut mengacu pada ketentuan Upah Minimum Provinsi (UMP) DKI Jakarta tahun 2015 sebesar Rp 2,7 juta per bulan. Selain itu, tren bajak membajak tukang bangunan di antara sesama pengembang, dan kontraktor ikut berkontribusi terhadap meroketnya upah mereka.

"Praktik bajak membajak pekerja konstruksi ini sudah terjadi sejak 2010 saat bisnis dan industri mengalami ledakan pembangunan (development booming). Lepas krisis 2008, semua pengembang berlomba membangun," urai Budi.

Sementara, di sisi lain pasokan tukang bangunan dengan keahlian tertentu terbatas. Mereka berasal dari Pulau Jawa. Terbatasnya ketersediaan pekerja konstruksi inilah yang mendorong terjadinya praktik bajak membajak di dunia konstruksi dan properti. 

Harga jual

Pada gilirannya, tingginya ongkos konstruksi tersebut mendongkrak harga jual properti. Gran Rubina Business Park, contohnya. Kompleks perkantoran di kawasan Rasuna Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan, ini dibanderol seharga Rp 42 juta per meter persegi.

Padahal, saat dipasarkan pada 2013 silam, harga jual perdananya hanya rp 27,5 juta per meter persegi. 

"Kami memang sudah merencanakan perubahan harga berbasis pada jumlah ruang yang terjual. Namun, ketika ongkos konstruksi melonjak gila-gilaan, harga jual yang sudah ditetapkan dalam businss plan pun mengalami perubahan signifikan," tandas Budi. 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.