Kompas.com - 26/06/2015, 00:45 WIB
Poster bakal calon Ketua Umum IAI periode 2015-2018. dokumentasi IAIPoster bakal calon Ketua Umum IAI periode 2015-2018.
|
EditorHilda B Alexander
JAKARTA, KOMPAS.com - Pesta demokrasi guna memilih calon-calon pemimpin terbaik, bukan semata anak kandung ranah politik. Ranah arsitektur di Indonesia yang direpresentasikan dalam tubuh organisasi Ikatan Arsitek Indonesia (IAI), juga sudah lama mengadopsi sistem pemilihan "satu orang satu suara".

Tahun ini, IAI kembali menggelar pemilihan ketua umum baru periode 2015-2018 sebagai agenda utama Musyawarah Nasional ke XIV di Medan, Sumatera Utara. Dalam berita acara verifikasi bakal calon ketua umum IAI, terdapat tujuh nama yang lolos proses penjaringan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Ketujuh nama tersebut adalah Puguh Harijono, Ahmad Djuhara, Bambang Eryudhawan, Elkanady Ickrom Muftizar, Muaz Yahya, M Oto Riskandar, dan Rizal Syarifuddin.

Dari ketujuh bakal calon ini, akan dikerucutkan menjadi tiga teratas yang memperoleh jumlah suara terbanyak melalui mekanisme pemungutan suara tahap pertama alias proses pencalonan yang berlangsung 23 Juni-30 Juni 2015. Tiga calon inilah yang nantinya berhak mengikuti "kompetisi" pemilihan ketua umum pada 17-19 September 2015.

Jabatan presiden atau ketua umum IAI, dianggap sangat strategis. Terlebih saat Rancangan Undang-undang (RUU) Arsitek tak kunjung disahkan oleh DPR RI, dan beratnya tantangan tahun-tahun mendatang saat serbuan arsitek asing berpraktik di Indonesia semakin agresif.

Karenanya, sang nakhoda, harus visioner, kompeten, terampil melobi, berkharisma, pekerja keras, dan didukung seluruh arsitek Nusantara. Sosok seperti itulah yang sangat dibutuhkan.

Menurut Associates Architects PTI Architects, Shakuntala Kartikasari, nakhoda baru juga harus mampu membawa IAI sebagai organisasi yang disegani sekaligus dapat memberikan kontribusi terhadap perkembangan arsitektur Indonesia.

"Selain itu, ketua umum baru harus cergas menghapus sekat-sekat arsitek senior dan yunior, serta aktif membina arsitek-arsitek di daerah agar tidak terjadi ketimpangan antara pusat dan daerah," ujar Shakuntala yang karib disapa Tika kepada Kompas.com, Kamis (26/6/2015).

Terkait persaingan antar-bakal calon, Tika menilai, hanya mereka yang dikenal sesama arsitek yang punya peluang mendulang suara terbanyak dan maju ke tahap pemilihan calon ketua umum.

Tika sendiri menjagokan dua nama besar yakni Bambang Eryudhawan dan Ahmad Djuhara yang dikenalnya dengan baik. Namun, bila harus memilih keduanya, Tika akan memilih Ahmad Djuhara.

"Djuhara punya kans besar. Selain terampil melobi dan berorganisasi, kompeten, juga santun dan tidak sombong. Mau merangkul semua arsitek dan tidak berjarak," tandas Tika.

Sementara Achmad D Tardyana dari Urbane Indonesia, mengatakan, dia hanya mengenal empat bakal calon, yakni Puguh Harijono, Bambang Eryudhawan, Rizal Syarifuddin dan Ahmad Djuhara.

"Program, visi dan misi mereka akan saya baca dan pelajari dulu. Namun, saya akan pilih yang saya kenal," tandas Apep, sapaan karib Achmad D Tardyana.

Lantas, siapa yang maju menjadi calon dan berlomba menuju "IAI Satu" menggantikan Munichy B Edrees? Nantikan pengumuman rekapitulasi nasional pada 3 Juli 2015 mendatang.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.