Kompas.com - 20/05/2015, 23:07 WIB
Ilustrasi www.shutterstock.comIlustrasi
|
EditorHilda B Alexander
JAKARTA, KOMPAS.com - Kesadaran konsumen dalam menggunakan perekat ubin atau mortar diakui masih kurang. Masyarakat masih bertahan dengan cara konvensional. Perekat cara lama dihasilkan dengan mengayak pasir dan semen, kemudian dicampur air.

Meski sudah membudaya dalam proses konstruksi, menurut Direktur PT Adiwisesa Mandiri Building Albertus Indra Sasmitra, lama kelamaan metode ini akan ditinggalkan oleh kontraktor.

"Penggunaan perekat sudah sangat populer di Eropa, Amerika, dan negara-negara maju lainnya. Di Indonesia, masih sedikit sekali yang sudah menggunakan mortar," ujar Albertus kepada Kompas.com, di Kantor Pusat AM, Jakarta, Kamis (20/5/2015).

Ia menuturkan, penggunaan perekat mulai umum digunakan pada bangunan-bangunan tinggi. Sementara di residensial, keberadaannya masih sangat jarang. Penyebabnya, para tukang yang biasa disewa oleh pemilik bangunan, tidak memahami betul bagaimana mengaplikasikan perekat.

Selama ini, tukang-tukang yang bekerja membangun rumah tidak menjadikan pekerjaannya sebagai profesi tetap. Mereka dasarnya adalah petani yang pada saat sepi atau masa tidak panen, baru pergi ke kota untuk menjadi tukang. Dengan demikian, wajar saja para tukang ini tidak paham betul tentang konstruksi bangunan yang baik.

Sementara para konsumen seringkali lebih tertarik memilih sendiri keramik, cat, keran, atau toilet. Untuk perekat, konsumen menyerahkan kepada tukang. Karena para tukang ini tidak fokus dalam pekerjaannya serta masih menggunakan metode lama, tidak jarang kualitas perekat yang dihasilkan di tiap proyek, berbeda-beda.

Selain itu, jika menggunakan metode lama, lanjut Albertus, banyak kesempatan untuk mengakali bahan-bahan perekat. Misalnya, pada tempat-tempat di rumah yang jarang dilewati, atau area yang tidak dibebankan furnitur berat, maka campuran pasirnya lebih banyak daripada semen.

"Kalau menggunakan perekat yang sudah ada, tidak perlu lagi mengayak dulu. Kadar adonannya sudah pas, pasirnya pun pilihan," kata Albertus. 

"Truck Wacker"

Dengan menggunakan perekat baru, tambah dia, konsumen tidak perlu khawatir kualitasnya akan berkurang. Mortar yang baik harus bisa menjamin mutu lantai tidak akan meledak. Untuk mengedukasi tukang dan stakeholder, Adiwisesa pun menyediakan Truck Wacker sejak 2013.

Truk ini merupakan fasilitas dari perusahaan untuk memberikan informasi bagaimana mengaplikasikan perekat ubin, pengisi nat, pelapis anti bocor, pelapis batu alam, dan aplikasi acian dengan benar.

Melalui truk ini, konsumen atau tukang, bisa mendapatkan penjelasan langsung dari pegawai Adiwisesa. Kegiatan ini merupakan rangkaian program Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan melalui program "Ayo Membangun" di Jakarta. 

"Sebelumnya kita rutin mengadakan workshop, kita yang mendatangi. Tahun ini diubah penyampaiannya, yaitu dengan menyediakan wadah untuk edukasi bagaimana membangun rumah yang baik," ujar National Sales & Marketing Manager Jenmie Srihartaty. 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.