Kompas.com - 13/05/2015, 15:41 WIB
Penduduk Yangon yang menggunakan Circular Railway, yang berjalan di rel sepanjang 45 kilometer di sekitar kota, harus menghadapi perjalanan kereta dengan kecepatan 17 kilometer per jam yang ditempuh selama tiga jam. curbed.comPenduduk Yangon yang menggunakan Circular Railway, yang berjalan di rel sepanjang 45 kilometer di sekitar kota, harus menghadapi perjalanan kereta dengan kecepatan 17 kilometer per jam yang ditempuh selama tiga jam.
|
EditorHilda B Alexander

KOMPAS.com - Myanmar bukan lagi negara dunia ketiga yang tertinggal jauh dari rekannya sesama negara Asia Tenggara. Negeri ini mengalami pertumbuhan ekonomi cukup pesat, yang berdampak pada migrasi urban besar-besaran.

Alhasil, dalam kurun tak sampai satu dekade, pengembangan properti marak di mana-mana, terutama di kota Yangon, dan kawasan pinggirannya. Harga sewa meroket, jalan disesaki kendaraan, dan aktivitas konsumen semakin marak.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Seperti kota berkembang lainnya di Asia Tenggara, padatnya kendaraan di jalan-jalan menyebabkan kemacetan luar biasa. Perjalanan yang awalnya bisa ditempuh hanya dalam hitungan menit, kini bisa sampai hitungan jam.

Arsitek Spine, Amelie Chai, yang pindah dari New York ke Yangon sepuluh tahun lalu,  mengingat era saat ia hanya butuh lima belas menit untuk sampai ke bandara. Saat ini, penduduk harus menghabiskan lebih dari satu jam menuju ke bandara.

Apa penyebabnya?

Populasi Yangon telah melonjak dari 2,47 juta pada 1998 menjadi 5,14 juta pada tahun 2011 dan 7,3 juta pada tahun 2014 dengan pertumbuhan penduduk terkonsnetrasi di pinggiran kota.

Jika pertumbuhan rerata 2,6 persen dari beberapa tahun terakhir, populasi Yangon akan mencapai 11,73 juta pada 2040.

Angka tersebut merupakan peringatan bagi pemerintah untuk memperbaiki infrastruktur dan jasa, terutama angkutan umum. Kebanyakan penumpang, sekitar 80 persen, menggunakan bis kota atau bus perusahaan.

Mereka yang menggunakan Circular Railway (jalur lingkar kereta), yang berjalan di rel sepanjang 45 kilometer di sekitar kota, harus menghadapi perjalanan kereta dengan kecepatan 17 kilometer per jam yang ditempuh selama tiga jam.

Menurut Departemen Perkeretaapian Myanmar, jalur lingkar Yangon sendiri telah direncanakan sebelum Perang Dunia Kedua dan dibangun pada akhir tahun lima puluhan. Sejak itu, Circular Railway yang dikelola pemerintah sangat sedikit mengalami peningkatan.

Halaman:


Sumber curbed
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.