Kompas.com - 02/05/2015, 18:18 WIB
Maket Roseville SOHO & Suites milik Grup Aldebaran, di BSD City, Tangerang Selatan, Banten. HBA/KOMPAS.comMaket Roseville SOHO & Suites milik Grup Aldebaran, di BSD City, Tangerang Selatan, Banten.
|
EditorHilda B Alexander

Dengan patokan harga senilai Rp 20 juta per meter persegi, maka uang yang harus dikeluarkan dari kocek para calon pembeli dari kalangan muda ini adalah sekitar Rp 600 juta hingga Rp 2,5 miliar per unit.

"Cukup terjangkau untuk kalangan muda, keluarga muda, dan yang baru memulai usaha (start up company). Biaya servisnya (service charge)-nya pun murah hanya sekitar Rp 20.000 per meter persegi per bulan," ujar Lily.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sementara, bila harus berkantor atau tinggal di pusat kota, harga propertinya sudah mencapai Rp 40 juta-Rp 100 juta per meter persegi, dengan biaya servis mulai dari Rp 100.000-Rp 150.000 per meter persegi per bulan.

Makin menggeliat

Meskipun secara makro, ekonomi tengah lesu yang berdampak signifikan terhadap perlambatan pertumbuhan sektor properti, namun untuk beberapa lokasi yang masuk kategori sunrise, geliatnya justru semakin tampak.

Lily menjelaskan, perlambatan tidak akan mampir di kawasan-kawasan strategis berfasilitas lengkap, dengan askesibilitas memadai. Properti di lokasi dengan karakteristik seperti ini justru akan kian diminati.

"Serpong satu di antaranya. Empat akses, dua di antaranya akses eksisting yakni Tol Jakarta-Merak via Kunciran, dan Tol Jakarta Outer Ring Road, melintasi kawasan ini. Akses tol ini semakin menjadikan Serpong lebih terbuka dan berpotensi untuk tumbuh lebih tinggi," kata Lily.

Faktor lainnya yang membuat Serpong justru semakin menggeliat adalah, pasar dengan ceruk yang lebar. Mulai dari kalangan bawah, menengah bawah, menengah-menengah, menengah-atas, hingga atas, jumlahnya luar biasa banyak.

"Pola migrasi urban juga turun memengaruhi densitas populasi Serpong yang pada gilirannya sangat membutuhkan hunian dan tempat usaha. Kebutuhan dan pasokan akan terus berlangsung dengan dinamis sehingga mencapai posisi seimbang," imbuh Lily.

Tingginya kebutuhan akan hunian, dan tempat usaha tersebut menstimulasi kenaikan harga lahan menjadi Rp 20 juta per meter persegi di sepanjang jalur komersial Jl Raya Serpong. Tak ada lagi penawaran lahan luas dengan harga rendah.

"Karena itu, kami menawarkan hunian dan tempat usaha vertikal melalui pemanfaatan atau optimalisasi lahan. Sehingga produk yang kami tawarkan masih bisa dijangkau oleh kalangan muda kelas menengah," timpal Fransiscus.

Selain Grup Aldebaran, pengembang lainnya yang lebih dulu menggarap hunian dan tempat usaha vertikal di Serpong adalah PT Sutera Agung Properti. Pengembang ini bahkan merilis sekuel dari Saumata, yakni Saumata Suites dengan harga jual mulai dari Rp 4,9 miliar untuk unit seluas 149,3 meter persegi.

Menyusul PT Prioritas Land Indonesia dengan proyek Majestic Point Serpong yang saat ini sudah mencapai tahap tutup atap. Berikutnya berturut-turut PT PP Properti dengan Te Ayoma Residences, Pohon Group dengan TreePark Apartments and Commercial, Sinarmas Land dengan Marigold dan beberapa apartemen terjangkau lainnya, dan PT HK Realtindo dengan Kubika Homy.


Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.