Kompas.com - 30/04/2015, 07:12 WIB
Banjir yang melanda kawasan elite di Jakarta Utara, yakni Kelapa Gading, menyebabkan ratusan rumah toko (ruko) di Ruko Boulevard Barat, tutup, Selasa (10/2/2015). Warta Kota/Panji Baskhara RamadhanBanjir yang melanda kawasan elite di Jakarta Utara, yakni Kelapa Gading, menyebabkan ratusan rumah toko (ruko) di Ruko Boulevard Barat, tutup, Selasa (10/2/2015).
|
EditorHilda B Alexander
JAKARTA, KOMPAS.com - Harga tanah di Kelapa Gading, Jakarta Utara, terus melejit. Menurut Direktur PT Summarecon Agung Tbk. Soegianto Nagaria, lonjakan ini disebabkan karena kebanyakan pemilik, tidak bersedia menjual tanahnya. Sementara permintaan demikian tinggi.

"Tanah itu relatif, ada yang bilang Rp 45 juta per meter persegi, tapi ada juga yang mematok Rp 50 juta per meter persegi," ujar Soegianto kepada Kompas.com usai pratinjau Jakarta Fashion and Food Festival (JFFF) di Balai Agung, Balaikota DKI Jakarta, Rabu (29/4/2015).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dia menyebutkan, peminat tanah di Kelapa Gading memang sangat banyak, namun para pemiliknya enggan menjual kembali. Namun, peminat tanah terus menawarnya hingga harga melambung. Soegianto memperkirakan, harga tanah di Kelapa Gading bisa menembus angka Rp 50 juta per meter persegi.

Kawasan yang dihuni 30.000 kepala keluarga ini, dihuni masyarakat yang berasal dari latar belakang beragam. Pasangan muda lebih memilih rumah yang kecil mulai dari luasan 36 meter persegi hingga 45 meter persegi. Hal ini disebabkan mereka belum membutuhkan banyak kamar untuk ditinggali. Selain itu, dengan rumah yang tidak terlalu besar, harganya juga relatif lebih murah.

Tidak hanya pasangan muda, kata Soegianto, pasangan mapan juga banyak yang mendatangi Kelapa Gading. Bedanya, para pasangan mapan ini cenderung mencari rumah dengan unit yang memiliki tiga kamar tidur. Alasannya, para pasangan mapan ini sudah memiliki anak yang cukup besar, serta menyiapkan ruang untuk cucu mereka.

Penjualan turun

Menurut Soegianto, penjualan rumah tahun ini belum membaik dibandingkan tahun sebelumnya. Ia beranggapan, hal tersebut disebabkan karena pemerintah belum menetapkan kepastian Pajak Penghasilan atas Barang Mewah (PPnBM). "Mungkin orang-orang bertanya soal pajak. Kalau ada kepastian mungkin akan lebih baik," kata Soegianto.

Ketidakjelasan ini, tambah dia, membuat pembeli atau investor menahan diri untuk membeli rumah. Mereka lebih memilih menunggu kejelasan dari pemerintah mengenai hal tersebut.

Ada pun terkait target kenaikan penjualan dibandingkan 2014, Soegianto tidak bisa menyebutkan angka pasti. Namun ia memprediksi, kenaikannya tidak akan terlalu tinggi. Dalam kurun waktu setengah tahun ke depan, penjualan diharapkan bisa bergerak lebih positif.

"Kita kan masih di awal tahun, pebisnis hati-hati betul. Tapi, kalau melihat tahun ini orang lebih ragu-ragu, tetap (atau penjualan sama dengan tahun lalu) saja, sudah bagus," tutur Soegianto.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.