Kompas.com - 07/04/2015, 15:32 WIB
|
EditorHilda B Alexander

JAKARTA, KOMPAS.com - Terstimulasi tingginya minat akan lahan kawasan industri dan pergudangan, imperium bisnis yang dirintis Prajogo Pangestu, PT Barito Pacific Tbk, mengembangkan Griya Idola Industrial Park (GIIP) di kawasan Bitung, Kabupaten Tangerang, Banten.

Menurut Senior Associate Director Industrial Services Colliers International Indonesia, Rivan Munansa, GIIP dikembangkan melalui anak usaha PT Barito Pacific Tbk yakni PT Griya Tirta Asri yang merupakan sayap bisnis properti.

"Luas lahan yang dikembangkan sekitar 50 hektar. Di dalamnya tidak hanya kavling-kavling untuk industri, melainkan juga dikombinasikan dengan berbagai macam fungsi yang mendukung kebutuhan industri," papar Rivan kepada Kompas.com, Selasa (7/4/2015).

GIIP, lanjut Rivan, berbeda dibanding kawasan industri lainnya. Properti ini mengintegrasikan lahan industri dengan gudang multiguna, service center, perkantoran, workshop, ruko, dan ruang ritel sebagai fasilitas penunjang. GIIP dilengkapi juga dengan fasilitas pengolahan air bersih, dan air limbah.

"Selain itu, mengakomodasi kebutuhan tiga hingga empat besar penyewa sebagai major anchor, dan menarwakan area untuk dikembangkan dengan skema built to suit atau dibangun sesuai kebutuhan dan permintaan spesifik calon penyewa," tutur Rivan.

Ada pun harga sewa pergudangan dan kavling industri, menurut Rivan tidak jauh beda dengan kawasan-kawasan industri lainnya di Bekasi Timur, Cikarang, maupun Cilegon.

Sekadar informasi, menurut studi Colliers International Indonesia harga lahan industri di Bogor mencapai rerata 169,3 dollar AS per meter persegi, di Bekasi sekitar 222,5 dollar AS per meter persegi, di Tangerang 152,3 dollar AS per meter persegi, di Karawang 185 dollar AS per meter persegi, dan di Serang sekitar 132,8 meter persegi. Harga ini di luar biaya pengelolaan.

Secara umum, bisnis kawasan industri di Jadebotabek, dan Serang-Cilegon, pada kuartal I 2015 relatif stabil. Pertumbuhannya masih positif. Hal ini terlihat dari kinerja penjualan sebanyak 26 persen dari total penjualan 2014 yang mencapai sekitar 1.300 hektar.

"Tingkat permintaan masih tinggi di satu sisi, sementara di sisi lain pasokan terbatas, terutama di daerah timur Jakarta. Tak heran jika beberapa pengembang melakukan perluasan lahan untuk kawasan industri," ungkap Associate Director Research Colliers International Indonesia, Ferry Salanto.

Ferry melanjutkan, permintaan untuk tahun ini tidak lagi digerakkan oleh sektor otomotif, melainkan sektor consummer goods dengan porsi 35,45 persen, makanan dan minuman 17,22 persen, material bangunan 13,87 persen, bahan kimia 10,06 persen, dan alat berat 9,25 persen. Sektor otomotif sendiri menelan porsi 6,94 persen.

Sepanjang kuartal I tahun ini, pertambahan lahan berasal dari Bekasi Fajar Industrial Estate seluas 50 hektar. Tahun depan, kata Ferry, akan ada banyak stok lagi yang siap diperkenalkan kepada pasar.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.