Kompas.com - 04/04/2015, 16:00 WIB
|
EditorHilda B Alexander
JAKARTA, KOMPAS.com - Lesunya pasar properti yang ditandai perlambatan pertumbuhan harga di beberapa wilayah di seluruh Indonesia, ternyata tak harus disikapi secara berlebihan. Suramnya pasar justru bisa dimanfaatkan untuk mulai berburu hunian. 

Menurut Presiden Keller Williams Indonesia, Tony Eddy, jenuhnya pasar properti, merupakan peluang besar bagi investor, dan calon konsumen untuk membeli dan memborong rumah, maupun jenis properti lainnya seperti apartemen, dan ruko.

"Saat sedang lesu, pengembang akan menawarkan harga rumah dengan berbagai macam promosi menarik. Mulai dari potongan harga atau diskon, pembebasan biaya provisi, hingga bebas uang muka. Ini dilakukan supaya produk mereka cepat laku," tutur Tony kepada Kompas.com, Selasa (31/3/2015).

Pengembang, kata Tony, tak akan mengambil risiko dengan menaikkan harga jual. Mereka justru menempuh cara menurunkan marjin keuntungan dengan memberikan potongan harga atau gimmick lainnya untuk menarik minat pembeli.

"Dengan harga murah ini, kesempatan bagi investor, dan calon konsumen (end user) membelinya. Nanti pasa saat pasar pulih kembali, aset properti yang dibeli akan meningkat nilainya, jauh lebih besar dari nilai pada saat pembelian," papar Tony.

Banyaknya pengembang yang menempuh cara ini sejak awal 2014, baik potongan harga maupun menipiskan marjin keuntungan, secara umum mendorong perlambatan kenaikan harga. Selain itu, sikap menunggu (wait and see) pasar akibat pemberlakuan loan to value, serta tingginya suku bunga KPR juga ikut memengaruhi.

Indeks Harga Properti Residensial Bank Indonesia menyebutkan, meski masih terjadi kenaikan harga secara triwulanan sebesar 1,54 persen pada kuartal IV 2015 dari kuartal sebelumnya, namun secara tahunan justru mengalami perlambatan sebesar 6,29 persen.

Bank Indonesia memprediksi perlambatan kenaikan harga ini akan terus berlanjut pada kuartal I 2015. Peningkatan harga hanya sebesar 0,89 persen. Perlambatan kenaikan harga ini terjadi pada semua tipe rumah kecuali tipe rumah kecil yang justru akan tumbuh tipis 1,29 persen.

Perlambatan pertumbuhan harga tertinggi akan terjadi di Balikpapan dengan angka 0,00 persen, dan kawasan Jadebotabek-Banten dengan pertumbuhan 0,14 persen. Rumah yang akan mengalami perlambatan kenaikan harga terbesar adalah tipe besar menjadi sekitar 4,56 persen. 

Oleh karena itu, pengembang besar macam Sinarmas Land Group, memilih untuk berjalan pada jalur yang aman, yakni fokus pada kelas menengah dan menengah atas.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.