Kompas.com - 09/01/2015, 14:46 WIB
Pulau Derawan, pulau andalan pariwisata Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, menyajikan pemandangan bawah air dan atas air yang memesona, Minggu (7/12/2014). KOMPAS/LUKAS ADI PRASETYAPulau Derawan, pulau andalan pariwisata Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, menyajikan pemandangan bawah air dan atas air yang memesona, Minggu (7/12/2014).
EditorI Made Asdhiana

Selain Sigending, desa tetangga yang masih dalam satu Kecamatan Biduk-biduk, yaitu Kampung Labuan Kelambu, memiliki obyek wisata Labuan Cermin. Lokasi wisata yang biasa disebut Danau Dua Rasa itu bisa ditempuh sekitar enam jam jalan darat dari Tanjung Redeb, ibu kota Berau.

Desa-desa di Biduk-biduk dihubungkan jalan aspal yang relatif mulus meski pertengahan Desember lalu terdapat perbaikan jembatan dan gorong-gorong. Selama perjalanan, kanan-kiri jalan terdapat pohon kelapa setinggi lebih dari 20 meter yang serasi dengan latar langit biru cerah. Sungguh pemandangan indah.

Labuan Cermin merupakan cekungan di antara perbukitan karst dengan laut yang menghasilkan ”danau dua rasa”. Pada bagian atas terdapat lapisan air tawar yang dihasilkan dari bukit karst, sedangkan pada bagian bawah merupakan air asin dari laut.

Keterlibatan warga

Obyek wisata berair bening yang dikunjungi hingga 8.000 orang pada libur hari raya Idul Fitri itu dikelola mandiri oleh Lembaga Kesejahteraan Masyarakat Labuan Cermin (Lekmalamin), organisasi pemuda di Kampung Labuan Kelambu. Mereka tak menarik retribusi, hanya mengandalkan pendapatan potongan Rp 30.000 dari tarif sewa kapal sebesar Rp 100.000 yang mengantar warga dari permukiman ke Labuan Cermin.

Bersumber dari pendapatan itulah, Lekmalamin melengkapi Labuan Cermin dengan berbagai fasilitas, seperti kamar ganti, serta merintis penginapan sederhana. Selain itu, berbekal Surat Ketetapan Bupati untuk melindungi 2.000 hektar hutan setempat, sejak tahun 2014, Lekmalamin menyediakan jalur berjalan kaki (trekking) sejauh 1,4 kilometer.

”Tambahan atraksi ekowisata ini biasanya digemari wisatawan-wisatawan mancanegara,” kata Untung Jaelani, Ketua Lekmalamin.

Geliat inisiatif masyarakat pun terasa di Kampung Tanjung Batu, ”pintu gerbang” penyeberangan wisatawan yang bisa ditempuh dua jam perjalanan darat dari Tanjung Redeb sebelum menyeberang ke Pulau Derawan atau pulau lain. Mereka hendak mengelola 1.500 hektar dari total 2.000 hektar hutan mangrove setempat yang berstatus areal penggunaan lain (APL) sebagai atraksi wisata.

”Kami sudah studi banding wisata mangrove di Bedul (Banyuwangi) dan Bali. Kami ingin Tanjung Batu tidak hanya dilewati wisatawan ke Derawan. Biar wisatawan juga bisa menikmati mangrove di sini,” kata Jorjis, Kepala Kampung Tanjung Batu.

Nilai jual mangrove setempat ada pada keberadaan mangrove jenis Camptostemon philippinense yang di dunia ini diperkirakan tinggal 2.500 individu. Selain itu, mangrove setempat juga menjadi rumah bagi berbagai fauna bekantan, monyet hitam, burung, ular, dan buaya.

Inisiatif masyarakat untuk mengelola seperti itu merupakan modal bagi pemerintah guna memaksimalkan pemanfaatan destinasi wisata setempat berbasis masyarakat. Selain itu, seiring masyarakat merasakan pundi ekonomi dari ekowisata, alam pun akan terjaga keberlanjutannya demi mengalirnya gelombang wisatawan ke daerah.

Pendampingan yang tepat dapat menempatkan warga lokal sebagai pemeran utama pembangunan daerah, sekaligus kesejahteraan mereka. (ICHWAN SUSANTO)

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X