Pembatalan Jembatan Selat Sunda Perlihatkan Ketegasan Pemerintah

Kompas.com - 05/11/2014, 19:55 WIB
Feri dari Pelabuhan Merak, Banten, mengangkut mobil memasuki Pelabuhan Bakauheni, Lampung, beberapa waktu lalu. KOMPAS IMAGES/FIKRIA HIDAYATFeri dari Pelabuhan Merak, Banten, mengangkut mobil memasuki Pelabuhan Bakauheni, Lampung, beberapa waktu lalu.
|
EditorLatief
JAKARTA, KOMPAS.com - Pembatalan pembangunan Jembatan Selat Sunda (JSS) yang menghubungkan Pulau Jawa dan Sumatera oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) dinilai pengamat merupakan langkah tepat. Pembatalan tersebut tidak berdampak sama sekali terhadap apa pun.

Ketua Ikatan Ahli Perencana Indonesia (IAP), Bernardus Djonoputro, mengutarakan pendapatnya kepada Kompas.com, Selasa (4/11/2014). Bahkan, lanjut Bernardus, dianulirnya proyek JSS ini merepresentasikan kepekaan terhadap skala prioritas dalam pembangunan wilayah dan tata ruang Indonesia.

"Pembatalan rencana proyek mercu suar ini menjadi tolok ukur ketegasan pemerintah yang akan berdampak positif terhadap peningkatan kepercayaan publik pada penegakan aturan dan arah pembangunan," ujarnya.

Lebih lanjut Bernardus memaparkan pengembangan dan pemanfaatan potensi kawasan di sekitar kedua ujung Pulau Jawa dan Sumatera. Menurutnya, jika itu disasar, tetap bisa dioptimalkan dengan pengembangan moda trasportasi konektifitas yang efisien.

Untuk itu, investasi pemerintah harus diarahkan bagi pembangunan infrastruktur penyeberangan berupa ferry ron oll ron off (RORO) kelas dunia dengan kapasita mumpuni, areal pelabuhan transit yang efisien, serta manajemen penyeberangan profesional.

"Fasilitas penyeberangan RORO ini harus berfrekuensi optimal. Teknologi dan peralatan mumpuni sudah lumrah di dunia. Kita harus fokus pada daya saing daerah dengan meningkatkan nilai tambahnya. Konektivitas optimal dicapai dengan multi moda transit system. Ada pelabuhan, jalan raya, jalan bebas hambatan, bandara, dan penyeberangan," tutur Bernardus.

Tak hanya itu. Bernardus mengatakan, sistem logistik dan pergerakan manusia juga harus ditata secara efisien. Kesalahan terbesar selama ini adalah banyaknya "redundancy" atau tumpang tindih infrastruktur konektifitas dan transportasi.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Nanti, pada saat operasi RORO kelas dunia berjalan secara efektif, kita akan mengukur secara tepat proyeksi pertumbuhan traffic dan logistik, sejalan dengan pertumbuhan di dua sisi pulau Jawa dan Sumatera. Kota dunia seperti Dublin terhubung secara efisien dengan Liverpool, melalui operasional penyeberangan yang bisa ditiru," ujarnya.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X